Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menyalakan Mesin Kesadaran Transformasi Peradaban

Minggu, 25 September 2022 | 15.24 WIB Last Updated 2022-09-25T08:24:47Z



Oleh Dwi Setiawan
Pimpinan Sekolah Kita Menulis (SKM) Cabang Langsa. Email: dwisetiawan1998@gmail.com

Indonesia saat ini sedang bersiap menghadapi perubahan diri besar-besaran. Hal tersebut disebabkan momentum bonus demografi yang terjadi. Bonus demografi merupakan kondisi dimana populasi usia produktif lebih banyak dari usia non produktif.

Berdasarkan prediksi yang dilakukan BPS (Badan Pusat Statistik), Indonesia diperkirakan akan mengalami bonus demografi pada kurun 2030-2040 mendatang. Artinya bahwa kondisi masyarakat indonesia akan didominasi oleh usia produktif (usia 15-64 tahun). BPS memperkirakan jika setidaknya sekitar 64% usia produktif dari total penduduk yang diproyeksikan yakni 297 juta jiwa.

Proses pergeseran transformasi peradaban tidak mugkin terelakkan lagi. Saat ini penulis merasa umat manusia indonesia sedang memasuki masa transisi global besar yang menuntut pemberdayaan potensi besar-besaran disegala bidang.

Namun yang menjadi benang merah pembahasan serta pertanyaan yang menjadi kuncinya. Apakah dengan kondisi saat ini dan kedepannya, mampukah umat manusia indonesia menyongsong era transformasi serta bonus demografinya, dan apakah momentum ini akan menjadi berkah atau musibah bagi bangsa indonesia?

Tidak bisa dipungkiri momentum bonus demografi diibaratkan pedang bermata dua yang mempunyai sisi keberkahan dan sisi musibah bila perubahan besar ini tidak dikelola dengan baik. Dengan adanya Bonus demografi berarti usia masyarakat produktif indonesia akan lebih banyak dari pada mereka yang berusia non produktif. Artinya keadaan ini akan menimbulkan potensi-potensi besar untuk dapat menciptakan perkembangan negara, memicu pertumbuhan ekonomi dan sebagainya.

Namun tidak dipungkiri tantangan untuk dapat menyeimbangkan potensi-potensi tersebut juga tidak mudah. Akan banyak tantangan-tantangan berat yang harus diseimbangkan. Jika ini gagal, artinya momentum demografi akan menciptakan musibah bagi kesejahteraan negara dan setiap umat diindonesia.

Ini yang menyebabkan kita harus terampil mempersiapkan perubahan-perubahan diri pada setiap umat manusia yang ada di Indonesia. Tidak dipungkiri perubahan-perubahan besar selalu hadir dari pemikiran-pemikiran generasi mudanya. Atau dengan kata lain, bagaimana kondisi generasi masa yang akan datang. Akan bergantung dari kondisi generasi masa sekarang.

Pada era sekarang. Selain perkembangan bonus demografi, era disrupsi juga menjadi poin penting yang harus diperhatikan generasi muda saat ini untuk mempersiapan diri dalam pertempuran tanpa pasukan. Karna sejatinya saat ini yang kita lawan bukanlah musuh berbentuk fisik, melainkan perubahan zaman yang mesti kita selaraskan dengan perubahan diri.

Sejalan dengan tranformasi zaman, terciptanya bonus demografi, dan perubahan era disrupsi digital saat ini. kita seperti dituntut untuk mengembangkan potensi diri agar tidak tenggelam dalam tranformasi zaman. Tentunya hal tersebut mempunyai sisi positif dan negatif yang terjadi. Sisi positifnya sebagai generasi muda kita terus berupaya untuk menggali potensi dan terus berubah agar mampu menghadapi tantangan zaman. Namun, pada sisi negatifnya kita seperti dipaksa melakukan kompetisi untuk mengalahkan orang lain yang menyebabkan orang-orang yang tertinggal dalam mengembangkan potensi diri akan tersisihkan sehingga menyebabkan nilai humanis sebagai manusia yang sosialis menjadi sosok individualis. Sehingga transisi perubahan zaman juga dikhawatirkan akan merubah kultur semangat persatuan dan gotong royong yang ada menjadi hilang pada bangsa ini.

Perubahan-perubahan ini sebenarnya sudah mulai terjadi ditengah-tengah kehidupan kita. Paradigma inilah yang menjadi kekhawatiran penulis sehingga dimasa depan nilai-nilai kultural yang selama ini kita anut menjadi lenyap karna tenggelam oleh transformasi zaman.

Jika melihat kondisi saat ini, negeri kita berlimpah penduduk usia muda dan produktif. Ada sekitar 60 juta lebih jumlah penduduk usia muda dengan rentang usia 15-34 tahun. Harusnya ini menjadi bonus demografi karna akan muncul banyak generasi penerus yang berkualitas.

Namun, akibat pandemi selama dua tahun lebih. 40 % penduduk miskin baru pada tahun 2020 adalah remaja dan anak dibawah usia 18 tahun. Laporan Statistik Pendidikan Tinggi tahun 2020 juga menunjukan lebih dari satu juta anak muda di Indonesia drop out dari bangku kuliah, baik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Pada tahun 2022, bahkan UNICEF menyebutkan ada 4,3 juta pelajar putus sekolah di Indonesia.

Sangat disayangkan, disaat momentum bonus demografi muncul. Malah banyak generasi muda Indonesia justru hidup dalam kondisi tidak beruntung. Namun yang paling mengkhawatirkan dikondisi sebaliknya, generasi muda saat ini malah banyak yang terpapar budaya hedonisme; memburu kesenangan fisik, hiburan, kenikmatan materi dan popularitas. Belum lagi prilaku generasi muda yang sudah mulai terikut budaya luar, pergaulan dan berhubungan seks bebas sebelum menikah yang kini sudah mulai dianggap biasa. Bahaya pergeseran kultural sosial inilah yang harus lebih diperhatikan karna akan menjadi pemantik perubahan besar-besaran penyebab nilai kultural budaya dan nilai-nilai ketuhanan digenerasi muda turun drastis.

Pada tahun 2018, berdasarkan penelitian Departemen Kaderisasi Pemuda PP Dewan Masjid Indonesia (DMI) menyebutkan hanya 33,6 % anak muda rajin shalat ke masjid setiap hari. Bahkan Dewan Masjid Indonesia pernah menyatakan bahwa 65% Muslim di Indonesia ternyata tidak bisa membaca Al-Quran, termasuk didalamnya penduduk usia muda. Beginilah sekilas kondisi generasi saat ini yang sangat memprihatinkan.

Mengamati proses pengembangan diri yang ada didunia. Penulis merasa umat manusia saat ini sedang memasuki masa transisi global besar yang menuntut kita melakukan pemberdayaan potensi kemanusiaan yang lebih besar lagi. Oleh karna itu, penulis merasa sudah saatnya kita menyesuaikan untuk menggeser fokus pengembangan diri dari proses yang berbasis intelejensi pikiran dan kinerja otak untuk memasuki proses yang lebih berbasiskan intelejensi kolaborasi hati, yakni sebuah proses pengembangan diri yang menggabungkan kekuatan Sains (Teknologi) dan motivasi ketuhanan (Spiritual).

Sederhananya semua dimulai dari hal-hal kecil, kemauan, kesadaran, dan keikhlasan. Tapi hal-hal kecil tersebut bagi penulis adalah kunci dari segala perubahan dan solusi yang ditanamkan pada generasi muda serta bangsa ini agar dapat menghadapi tranformasi peradaban dan bonus demografi. Karena perubahan besar pada bangsa dimulai dari perubahan-peruhan kecil pada diri setiap manusianya terutama para generasi muda saat ini.

Dimulai dari menciptakan kemauan, dengan kemauan inilah kita harus menyadari bahwa sebenarnya kita sendirilah yang paling bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada kondisi kita saat ini. kemudian menciptakan kesadaran, karna melalui kesadaran kita harus bisa memahami bahwa nasib bukan suatu kebetulan, melainkan pilihan. Bukan suatu hal yang harus kita tunggu kedatangannya tetapi kita jemput melalui pencapaian. Selanjutnya menciptakan keikhlasan. Yakni, dengan meyakinkan diri bahwa melalui kemauan dan kesadaran adalah bentuk sukses sejati yang hadir saat kita berikhtiar seolah segalanya bergantung pada kita dan berdoa seolah segalanya bergantung pada Tuhan. inilah yang penulis sebut dengan menyalakan mesin kesadaran untuk menghadapai era perubahan sosial yang tak bisa diprediksi, transformasi peradaban dan bonus demografi yang akan terus terjadi kedepanya.