Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Husin Saidy: Desa Rantau Panjang Dusun Bedari masih Terisolir

Selasa, 09 Februari 2021 | 16.52 WIB Last Updated 2021-02-09T09:52:28Z

Husin Saidy

BerawangNews.com, Aceh Timur- Sudah 75 tahun Indonesia merdeka, namun desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih Kabupaten Aceh Timur masih terisolir, lantaran dibekap persoalan fasilitas pendidikan, kesehatan, transportasi dan kesulitan lapangan kerja.

Husin Saidy Sasa salah satu peserta baksos Dema UIN Ar-Raniry merasa pilu melihat keadaan disana. Dia menyampaikan untuk menuju desa itu kita harus melewati Aceh Tamiang dengan jarak tempuh sekitar delapan jam perjalanan dari Ibu Kota Banda Aceh. Setiba disana, dari Kecamatan Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang, perjalanan berlanjut dengan mengarungi sungai Tamiang menggunakan Transportasi perahu motor hingga enam jam perjalanan. Saat itu kami berangkat siang hari dari Aceh Tamiang dan tiba malam hari di dusun Bedari. Ketika tiba disana kami melihat lampu yang redup akibat minimnya pencahayaan dan kurangnya pasokan listrik. Kami juga menyaksikan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat disana. Mulai dari masalah ekonomi, kesehatan, terbatasnya pendidikan, akses transportasi hingga jaringan komunikasi.

Akses Menuju Dusun Bedari meskipun berada di wilayah Aceh Timur namun kita harus melalui Aceh Tamiang. Bukan karena tidak ada jalur lain, karena sebenarnya masih terdapat jalan darat dari wilayah Aceh Timur menuju ke Desa tersebut. Hanya saja, akses darat yang tersedia tidak memadai untuk dilintasi. Terlebih jika musim penghujan tiba, badan jalan akan berubah menjadi kubangan lumpur.

Masyarakat dusun Bedari memiliki pendapatan berkisar Rp. 500 ribu hingga Rp 1 juta rupiah per bulannya, bahkan ada yang tidak sama sekali. Akibat pendapatan yang tidak menentu, Perekonomian masyarakat bertumpu pada sektor pertanian seperti petani kakao, pinang, karet dan mencari ikan ke sungai. Namun, murahnya daya jual hasil tani dan serangan gajah liar menjadi masalah bagi pertanian warga setempat.

Tidak hanya sektor ekonomi yang memperihatikan, fasilitas kesehatan juga sangat terbatas. Disana hanya ada Pondok Bersalin Desa (Polindes) dengan lima orang bidan yang status tugasnya berbeda, yakni ada PNS, tenaga kontrak daerah dan tenaga kontrak BPJS. Tidak hanya itu, para bidan juga terkendala dengan minimnya peralatan medis. Masyarakat Dusun Bedari berharap adanya Puskesmas Pembantu (Pustu) untuk penanganan pertama jika ada orang yang mengalami luka berat atau kecelakaan kerja.

Di Desa Rantau Panjang hanya terdapat dua sekolah, yakni Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Untuk beranjak ke jenjang selanjutnya, sebagian kecil anak-anak di sana memilih merantau ke Langsa, Tamiang atau Banda Aceh. Bukan karena tidak ada SMA yang terdekat dengan desa ini, tapi rute yang harus ditempuh cukup berat. Untuk bisa sampai ke sana bakal memakan waktu tempuh selama 45 menit. Itu pun harus menggunakan jalur sungai, yang aksesnya lancar jika cuaca bersahabat. Bahkan sebagian besar anak harus putus sekolah dan memilih mengikuti orang tuanya bertani dan menebang pohon di hutan.

Tidak adanya akses jaringan komunikasi membuat kondisi masyarakat di Dusun Bedari semakin terisolir. Hanya untuk memperoleh dua digit jaringan telepon, masyarakat harus harus mendaki bukit yang jaraknya 300 meter dari pemukiman warga.Jika ada hal penting atau ingin menghubungi sanak keluarga yang berada di luar desa, mereka harus mendaki bukit terlebih dahulu. Di bukit tersebut warga bisa memperoleh jaringan komunikasi dan jaringan internet.

(ASB)