Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hari Guru Nasional: Etos Kerja dan Problematika Guru di Masa Pandemi

Sabtu, 21 November 2020 | 20.05 WIB Last Updated 2020-11-21T14:19:01Z


 
Oleh: Mutmainnah

Mahasiswi UIN Ar-Raniry Program Studi Sosiologi Agama dan Sekolah Kita Menulis

November merupakan salah satu bulan yang kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Seperti tanggal 10 November 1945 banyak dari pahlawan dan masyarakat Indonesia yang berjuang keras melawan penjajahan dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kobaran Bung Tomo dalam mempertahankan “ arek-arek surabaya “ dari penjajahan Inggris membakar semangat rakyat Indonesia melalui pidato-pidato yang disiarkan oleh Radio Pemberontakan. Terlepas dari itu semua 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional serta bertambah usianya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). 

Para pendidik baik orang tua, guru, dosen dan ustad yang mempunyai peran yang berpengaruh bagi bangsa dan negara. Jika ada muncul pertanyaan tentang profesi atau kerja yang paling banyak memerlukan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan? Pasti jawabannya adalah profesi seorang guru. Kita pernah mendengar lagu nasional yang berjudul Hymne Guru yang bunyinya “ Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak guru, namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku” begitulah sekilas dari lagu Hymne Guru. Betapa mulianya profesi seorang guru yang mampu melibatkan dirinya untuk dapat mencerdaskan anak bangsa. 

Imam Al-Ghazali pernah mengatakan “ Seseorang yang memiliki ilmu, lalu bekerja dengan ilmu yang dimilikinya itu, dialah yang dinamakan orang yang besar di bawah kolong langit ini. Dia laksana matahari yang memancarkan sinar kepada orang lain, sedangkan dia sendiri pun bersinar. Bagaikan minyak kasturi yang wanginya dinikmati orang lain, dia sendiri pun harum “. Begitulah kutipan dari Imam Al-Ghazali, beliau adalah pakar filsafat Islam yang mampu meninggalkan kemewahannya yang dimiliki dalam kehidupannya dan merantau dalam menuntut ilmu pengetahuan. Sebuah untainya kata tersebut memang mendeskripsikan bahwa guru adalah pekerjaan yang mulia. Banyak dikalangan anak-anak muda yang ingin bercita-cita ingin menjadi profesi guru. Dengan awal mula cerita yang berbeda-beda. Adanya ketertarikan dalam sanubari, pengaruh, atau terpaksa. Apa pun itu alasannya guru adalah pelita dalam kegelapan pendidikan. Gilbert Highet memaparkan bahwa “ guru yang baik adalah orang yang gigih “. Gilbert Highet merupakan salah seorang penulis akademis, intelektual serta sejarawan sastra. Inilah yang menjadi perihalnya, guru perlu spirit perjuangan yang tak goyah dan tak gentar dalam rintangan apapun.

Di era pandemi yang semakin merajalela ini. Sistem pembelajaran yang sekarang menggunakan daring ( dalam jaringan ) membuat para guru harus siap mental dalam membuat sebuah kebijakan proses mengajar untuk anak muridnya, harus mahir dalam menggunakan aplikasi belajar online seperti classroom, zoom, dan google meeting. Tak mudah melakukannya dibutuhkan kesabaran yang ekstra dalam melakukan proses belajar mengajar di masa pandemi. Banyaknya berita yang sering bermuncullan di televisi atau media informasi yang angka kematian akibat dari pandemi yang sulit untuk diterka apakah virus ini akan hilang. Dalam sistem pembelajaran daring ini tentu harus memerlukan jaringan yang kuat atau kuota agar bisa melakukan proses pembelajaran. Adapun guru yang pergi ke rumah siswa yang tidak memiliki handphone android agar bisa belajar bahkan menggunakan talam sebagai papan tulis untuk bisa memberi materi pelajaran. Tidak hanya guru saja dosen atau ustad pun juga demikian, membuat sebuah sebuah materi agar mudah dipahami oleh mahasiswa/i. Belum lagi anak-anak didikannya yang tinggal di pelosok yang susah mendapatkan jaringan internet. Bahan materi yang diberikan guru kepada siswa atau mahasiswa apakah sudah ddipahami atau belum, membuat para guru menjadi ragu. Sistem daring juga sering menuai pro dan kontra antar pelajar dan pengajar karena adanya kesalahpahaman. Akhirnya menjadi alasan tidak membuat suatu tugas. Bahkan terjadi perseteruan antara orang tua dan guru. Tak dapat kita pungkiri pembelajaran virtual memang memiliki kendala yang memacu terjadinya kesalahpahaman. 

Kecanggihan teknologi informasi yang hadir yang semakin hari semakin luar biasa canggihnya membuat para anak didik menjadi manja dan terbuai oleh teknologi. Hadirnya sebuah teknologi yang mampu menciptakan sistem belajar melalui bentuk video atau yang lainnya yang secara virtual, membuat para anak-anak sekarang lebih yakin dengan pencaharian di sebuah situs internet ketimbang bertanya kepada gurunya sendiri. Perlu dipertegas bahwa guru dan internet itu tidak serupa, fungsi guru tak tergantikan oleh internet. Guru mempunyai fungsi sebagai penjelas, pendidik dan pengajar serta memberikan arah bimbingan. Seiring perubahan zaman kita sering mendengar pemikiran anak-anak saat sekarang ini adalah guru terkesan galak yang menjadi suatu problematika yang seyogianya harus di ubah dan merupakan pemaknaan yang salah. Makna guru sebagai “ pahlawan tanpa tanda jasa “ seketika hilang bagaikan ditelan bumi yang dulunya menjadi suatu penghormatan yang begitu berharga kini memudar hadirnya teknologi dengan segala kecanggihannya. 

Masih banyak problematika yang belum terpecahkan dan menjadi suatu keterpurukan yang membuat sanubari seorang guru menjadi sedih. Bisa kita tinjau dari problematika guru yang belum menjadi PNS ( Pegawai Negeri Sipil ). Bertahun-tahun mereka yang gaji didapat hanya bekisar Rp 200-300 ribu perbulan. Harga yang begitu mengkhawatirkan menjadi sebuah inti promblematika. Kerja keras mereka yang begitu luar biasa yang mulia dalam mencerdaskan anak muda, tulisan yang terukir indah di papan tulisan yang menjadi suatu harapan besar agar lahirnya anak-anak muda yang cerdas juga berguna bagi bangsa. Penempatan guru dalam program SM-3T ( Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal ) adalah sebuah program membutuhkan nyali juga usaha yang matang supaya bisa beradaptasi dengan daerah tertentu yang menjadi tempat untuk mengajar. Lika-liku juga dilema dialami para guru menjadi suatu ujian tantangan yang harus dilaluinya. Tangis dan haru mereka harus tetap kuat dan tidak boleh lemah. Mereka rela meninggalkan kampung halamannya, orang tua, sanak saudara bahkan istri atau suami mereka agar bisa mengajarkan anak-anak untuk bisa belajar. Kisah pilu mereka yang tidak sanggup diceritakan menjadi suatu sebuah acuan atau tekad untuk tidak menjadi lemah dalam menjalankan profesinya menjadi guru. Peluh seorang guru, dosen dan ustad yang sedang mengajarkan kepada anak muridnya, tak bisa kita hapuskan dengan sehelai handukpun.

Untuk itu di hari peringatan Haru Guru Nasional ini semoga para guru kita tetap diberikan nikmat sehat dan kekuatan oleh Allah SWT dalam berbagi ilmunya kepada kita semua. Doa dan ucapan terimakasih kita sampaikan kepada guru, dosen juga ustad yang sudah berkontribusi atau berupaya berjuang keras mengajar di era pandemi ini. Ikhtiar juga kesabaran semoga dipermudah Allah rahmat serta rizkinya.
 
Email: mutma825@gmail.com