Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

MERAJUT KEMULIAAN

Senin, 29 Juni 2020 | 23.46 WIB Last Updated 2020-06-29T16:46:52Z


      Oleh Johansyah

Sahabat, sekaligus menantu Rasulullah Saw. Ali Bin Abi Thalib dikenal sebagai sosok intelektual Islam cerdas. Beliau banyak mewariskan nasihat hikmah menggugah. Salah satu kalimat yang beliau sampaikan yakni; “Temukan kepribadianmu dengan melakukan tiga hal ini: pertama, jadilah manusia yang paling baik di sisi Allah Swt. kedua, jadilah manusia yang paling buruk dalam pandangan dirimu. Ketiga, jadilah manusia biasa di hadapan sesama manusia”.
Tiga poin yang menjadi nasihat Ali Bin Abi Thalib merupakan sikap hidup yang sejatinya mampu kita terapkan untuk mencapai kemuliaan. Di satu sisi, kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya adalah sesuatu yang sulit untuk diwujudkan. Pada kenyataannya, kebanyakan orang melakukannya terbalik; menjadi orang yang paling buruk di sisi Allah Swt, menganggap diri paling baik dalam pandangannya, serta berusaha tampil luar biasa di hadapan sesama manusia. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan kita uraikan satu persatu.

Pertama, kita harus berusaha menjadi manusia yang paling baik di sisi Allah Swt. Ini artinya kita harus memiliki akidah yang sudah kokoh sehingga mampu mewujudkan perintah Allah Swt dan meninggalkan larangan-Nya. Dengan modal ini, kita tidak akan peduli apakah seseroang melihat kita berbuat baik, karena yang kita inginkan adalah penilaian Allah Swt bahwa kita telah berbuat baik. 

Inilah ketakwaan, di mana manusia tidak butuh apresiasi manusia lagi dalam melakukan setiap kebaikan, karena baginya ketika Allah Swt sudah menilai itu baik, dia telah yakin telah melakukan sesuai perintah-Nya, meski pun banyak manusia yang memberikan penilaian beragam. Itu tidak penting baginya. Allah Swt sendiri yang tegaskan bahwa manusia yang paling mulia (baik) di sisi Allah Swt itu adalah manusia yang bertakwa (QS. al-Hujurat: 13). Takwa di mana manusia mampu menjalankan hidup sesuai dengan regulasi yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. 

Patutlah kita senantiasa mengoreksi diri dari setiap amal yang kita lakukan. Kita persembangkan demi, untuk apa dan siapa? Kalau amalan masih berorientasi pada pujian manusia, maka itu tidak akan pernah bernilai di sisi Allah Swt. Tetapi kalau kita mempersembahkannya agar mendapat nilai plus dan ridha Allah Swt, dijamin kita akan menemukan keuntungan ganda; dari Allah Swt maupun manusia. 

Dulu di sebuah perkampungan, ada seorang yang bisa dikatakan ustadz. Kalau di depan orang shalatnya sangat lama, kelihatan khusyuk, dan mungkin ayat yang dibaca juga panjang. Tapi kondisinya berbeda ketika dia shalat sendirian. Shalatnya begitu cepat, sebentar saja sudah selesai. Ya, kelihatan sekali bahwa shalatnya itu karena ingin dipuji orang lain.

Padahal kalau dia mengerti dan menghayati makna-makna do’a dalam shalat itu, dia tidak akan mungkin melakukan hal yang konyol tadi. Bukankah ketika duduk di antara sujudnya, dia selalu membaca inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin (sesungguhnya shalatku, bibadahku, hidup dan matiku hanya karena Allah Swt). Do’a ini telah dia abaikan. Dia menikmati sifat riyanya dalam beribadah yang dibumbui oleh setan sehingga dia lupa bahwa yang dia lakukan itu bukan ibadah, tetapi dosa.   

Kedua, pesan beliau selanjutnya adalah agar kita menjadi manusia yang paling buruk dalam pandangan dirinya. Ini artinya kita lebih banyak mengakui kekurangan diri. Sikap ini sangat penting bagi seseorang untuk menjadikan dirinya mulia. Mengakui diri serba kekurangan adalah tanda manusia super. Ketahuilah, salah satu ciri manusia supar itu bukanlah orang yang kuat, kekar dan ditakuti, tapi mereka yang rendah hati dan mengakui segala kekurangan dirinya.
Kekurangan itu sendiri diciptakan pada setiap manusia agar mereka saling mengisi dan saling membutuhkan. Tidak ada satu manusia pun yang mampu berdiri sendiri dan memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Dulu, nabi Adam itu diciptakan sendiri oleh Allah Swt. Namun kemudian dia memohon kepada Allah agar diciptakan teman sebagai pasangan hidupnya.

Dalam kehidupan sosial, seseorang yang mendeklarasikan diri sebagai orang terkaya, ternyata juga membutuhkan orang lain. Dia memang punya banyak uang, tapi ketika mau makan, dia butuh beras, sayuran, ikan, dan semua yang diinginkan. Memang dia tinggal beli ke pasar segala kebutuhannya tersebut. 

Pertanyaannya, beras, sayur, ikan, dan segala kebutuhannya dari mana datangnya? Tentu dari petani, nelayan, maupun pedagang. Jadi sehebat-hebatnya manusia, tetap membutuhkan orang lain. Tentu yang pasti, ketika kita meninggal dunia, orang lainlah yang mengurusi. Mulai dari memandikan, mengkafani, menshalatkan, hingga menguburkan. Untuk itu, apa yang kita sombongkan?
Bahkan mungkin orang kaya jarang menyadari, ternyata semakin kaya dia semakin bergantung pada orang lain. 

Dia butuh sopir untuk mengantarnya ke sana ke mari. Dia butuh tukang masak untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya. Dia juga butuh orang yang mengurusi taman rumahnya yang begitu luas. Dia butuh yang lain lagi untuk mengurusi berbagai kepeluannya. Begitulah, semakin kaya, semakin membutuhkan orang lain.

Ketiga, kata Ali bin Abi Thalib, jadilah biasa saja di hadapan hadapan manusia. sebagai manusia kita tidak usah menunjukkan kelebihan kepada orang lain; paling kaya, paling cerdas, paling kuat, paling tampan, dan paling lainnya. Ingat, di atas langit masih ada langit. Bumi juga berlapis. Kalau kita pintar, ada orang yang lebih pintar. Demikian pula kaya, cantik, tanpan, dan seterusnya, pasti ada yang lebih dari kita. 

Sifat merasa paling itu adalah karakte iblis. Dulu ketika Allah Swt menciptakan Adam dan meminta kepada para malaikan dan iblis sujud. Malaikat langsung sujud, tapi iblis enggan melakukannya dan menyombongkan diri (Lihat QS. al-Baqarah: 34). Dia menganggap tidak pantas untuk tunduk kepada Adam yang diciptakan dari tanah, sementara iblis diciptakan dai api. Untuk itu, jangan coba-coba kenakan seragam sombong, karena seragam ini milik iblis.

Inilah tiga hal menurut Ali Bin Abi Thalib yang dapat kita gunakan sebagai modal untuk merajut kemuliaan; berusaha menjadi baik di mata Allah, berusaha paling buruk di hadapan diri sendiri, dan tampil biasa saja di hadapan manusia lain. Kalau sikap ini dapat kita wujudkan, Allah akan memuliakan kita, dan demikian juga manusia. jika pun ada yang berusaha menghinakan, toh kita sudah mulia di mata Allah Swt. Semoga menjadi bahan renungan bagi kita bersama dan bermanfaat. Amin.

*Pegawai Dinas Syari’at Islam dan Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Tengah.