Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Refleksi HMI, Mampukah Bertransformasi?

Rabu, 12 Oktober 2022 | 07.01 WIB Last Updated 2022-10-12T00:01:00Z



Oleh Dwi Setiawan
Wasekum PTKP HMI Cabang Langsa. Email: dwisetiawan1998@gmail.com


"Indonesia akan hancur tanpa dua faktor yaitu tanpa hijau hitam dan hijau loreng. hijau hitam dari intelektualnya dan hijau loreng dari segi kekuatan dan mentalnya.” Begitulah salah satu kutipan yang penulis muat dari ucapan dan harapan Jenderal Soedirman mengenai lambang sosok warna hijau hitam dan hijau loreng. Tentu kita semua sudah tidak asing lagi mengenai maksud dan tujuan ungkapan hijau hitam pada kutipan tersebut. Namun dalam kutipan lainnya di sebuah momen Dies Natalis HMI pertama pada 6 Februari 1948. Jendral Soedirman juga pernah mengucap ungkapan yang lebih jelas yaitu “HMI bukan saja harapan ummat Islam tapi harapan bangsa ini.” ini menunjukan bahwa begitu besarnya kepercayaan dan harapan Jendral Soedirman yang beliau tunjukan untuk sebuah organisasi tertua diindonesia yang memuat semangat keindonesiaan dan keislaman didalamnya.

Kemarin tanggal 14 Rabiul Awal 1444 Hijriah bertepatan dimana pada tanggal yang sama di tahun 1366 Hijriah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berdiri. Merefleksi sejarah sejauh HMI berdiri dan layaknya sudah menjadi sebuah Rumah yang berdiri besar bagi para pemuda akademis yang terdidik untuk memberikan sumbangsih buah pikiran baik gagasan maupun kontribusi terbaiknya dalam membangun bangsa, negara, dan juga telah terbukti mampu melahirkan tokoh-tokoh hebat dari rahimnya.

Proses pengkaderan sejak dulu dan hari ini di HMI, tentunya memiliki dinamika berbeda disetiap era peradaban yang terjadi dan tentunya akan menghasilkan kader-kader yang berbeda disetiap masanya. Sejak puluhan tahun lalu, proses pengkaderan yang berjalan di HMI dinilai mampu melahirkan nama-nama dan tokoh besar yang melahirkan karya-karya besar maupun pimpinan hebat dimasa sekarang, bahkan banyak menuai kepercayaan dan harapan tokoh-tokoh besar terdahulu seperti Jendral Sudirman, maupun tokoh-tokoh besar lainnya sehingga menjadi eksistensi dan kebanggaan tersendiri bagi kader-kader HMI di masa sekarang.

Nama-nama dan tokoh-tokoh alumni, sampai kepercayaan dan harapan tokoh besar terdahulu kepada HMI sering digaungkan dan dikenalkan guna menjadi senjata ampuh para kader menarik simpatis mahasiswa untuk bergabung di HMI. Dengan mengikuti pola yang sama hingga kini, kader HMI dikenal suka mengkritik, adu gagasan, demonstrasi, narasi, juga memberikan kontribusi pemikiran dan lain sebagainya. Namun juga tidak dipungkiri hingga kini HMI juga banyak melahirkan kader-kader sesat yang bertuhan pada kanda dan penguasa, hadir hanya karna kepentingan, menciptakan konflik, pemamfaatan organisasi dan dinda untuk menghasilkan rupiah, dan lain sebagainya.

Berjalannya waktu membuat kita sadar bahwa dinamika perubahan era ataupun trasformasi peradaban akan menjadi tumpuan bagaimana organisasi ini berjalan. Dimasa lalu HMI berhasil melalui era transformasi zaman sehingga menciptakan tokoh-tokoh hebat dengan gagasan pemikirannya yang juga hebat, sehingga nilai keberjayaan HMI bisa kita rasakan hingga saat ini.

Namun yang menjadi tanda tanya besar, mampukah kader generasi HMI saat ini melalui rekontruksi transformasi peradaban untuk berkarya, memberikan gagasan-gagasan hebat, dan menciptakan tokoh-tokoh hebat juga dalam wujud pengabdian kebermamfaatan bagi bangsa dan negara sehingga bisa menghasilkan nilai-nilai keberjayaan lagi bagi HMI untuk dikenang dimasa depan atau malah sebailknya, kader HMI bisa berpotensi menciptakan nilai-nilai kebobrokan yang dapat menghancurkan HMI dimasa depan?

Sepanjang sejarah, tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan dan ide gagasan terbaik itu selalu dihadirkan oleh para tokoh pemuda yang terus senantiasa peka untuk terus mengikuti dan bisa menyesuaikan perubahan-perubahan yang terjadi seiring berjalannya pergantian era. Namun juga mesti tetap mampu mempertahankan nilai identitas tujuan berdirinya sebuah bangsa dan negara, yang berarti bahwa bagaimanapun kondisi dimasa depan. itu juga bergantung bagaimana dengan kondisi pemuda saat ini. ini juga berlaku untuk para kader HMI juga, untuk bagaimana bisa menyesuaikan perubahan-perubahan yang terjadi seiring berjalannya pergantian era dan juga tetap mampu mempertahankan nilai identitas tujuan berdirinya HMI.

Suka adu gagasan, demonstrasi, dan mengkritik bukan berarti HMI sendiri terlepas dari kritikan. Melalui narasi yang penulis buat ini, kita harus sama-sama mesti mampu menyadari dan menghadirkan kesadaran-kesadaran kecil melalui cerminan diri kita masing-masing. Sudahkah kita selaku kader HMI menjadi kader yang sebenarnya kader sesuai dengan yang tertera dalam isi tujuan HMI atau yang disebut penerapan 5 kualitas insan cita itu sendiri?

Perlu kita sadari bahwa kebaikan dan kebobrokan yang dinilai terhadap HMI merupakan cerminan dan tanggung jawab dari diri kita semua selaku kader HMI. Namun tanpa kita sadari juga, mungkin kita semua sudah menjadi kader yang pragmatis terhadap nilai-nilai yang ada di HMI sendiri atau mungkin kita semua sudah terlalu nyaman dengan kebesaran nama HMI. Sehingga ketika muncul nilai-nilai kebobrokan yang terlahir dari HMI kita sudah tak mau tau lagi. Penulis pernah membaca ungkapan Nurcholis Madjid atau Cak Nur dalam Seminar Kepemimpinan dan Moralitas Bangsa di Auditorium LIPI yang mengatakan“HMI sebaiknya dibubarkan saja, agar tidak menjadi bulan-bulanan dan dilaknat”, dan belakangan juga muncul sebuah buku yang kontroversial yang pada tulisannya terdapat kumpulan opini nilai-nilai kebobrokan yang ada pada HMI yakni pada buku yang berjudul Bubarkan HMI? Yang ditulis oleh Zulfata. Ini mestinya bisa menjadi bahan refleksi bersama guna merekontruksi dan menjadikan HMI lebih baik lagi.

Bonus demografi sudah dipelupuk mata, dan Pandemik Covid-19 sebelumnya juga harusnya dapat menjadi pemahaman untuk kita semua bahwa banyak sekali terjadi perubahan kondisi sosial peradaban dunia yang sulit untuk diprediksi dan ini adalah sebuah pelajaran bahwa kita semua harus senantiasa selalu inovatif dan peka untuk menyesuaikan perubahan-perubahan keadaan yang makin kedepan akan terasa semakin sulit untuk diprediksi, agar HMI tetap mampu berjalan sebagai organisasi pengkaderan yang menanamkan 5 KIC dan menjunjung nilai-nilai semangat keindonesiaan dan keislaman, untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT. Terakhir semoga melalui narasi yang penulis buat ini, kita semua selaku kader HMI mampu menyalakan mesin kesadaran untuk kembali kefitrah berdirinya HMI dan merekontruksi diri kita masing-masing untuk bertranformasi mengikuti perkembangan Era agar dapat mempertahankan nilai-nilai kebaikan pada HMI.