Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Membangun Manusia Indonesia

Kamis, 28 Juli 2022 | 08.45 WIB Last Updated 2022-07-28T01:45:25Z



Oleh Zulfata, M.Ag
Direktur Sekolah Kita Menulis (SKM). Email: fatazul@gmail.com

Kontroversi pemikiran Mochtar Lubis di tahun 1977 telah menyebut ciri manusia Indonesia adalah hipokrit (munafik), enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, berjiwa feodal, percaya takhayul, artistik hingga berwatak lemah. Jika mencermati arah pembangunan manusia (human capital) di Indonesia masa kini, mungkin saja temuan Mochtar Lubis masih relevan, dan mungkin saja tidak. Paling tidak melalui temuan tersebut secara tidak langsung menjadi energi penggerak bagi manusia Indonesia masa kini untuk terus berbenah serta menampakkan bukti bahwa apa yang disebut Mochtar Lubis sudah usang.

Tentunya sikap pasrah atau larut mengutuk manusia Indonesia atas dasar temuan di atas bukanlah pilihan utama. Satu sisi kita masih percaya bahwa Indonesia masih memiliki manusia-manusia patriotik, suka bergotong-royong, dermawan, berjiwa rela berkorban serta visioner. Pada posisi ini temuan Mochtar Lubis senantiasa dapat dijadikan batu lenting untuk terus membangun manusia Indonesia secara berkelanjutan.

Benar bahwa kini indeks demokrasi di Indonesia merosot jauh dari standar negara demokratis, krisis pangan di depan mata seiring tingginya pejabat publik yang tertangkap karena korupsi. Partisipasi publik dihadang oleh mekanisme kerja algoritma (Artificial Intelligence) melalui inovasi media sosial di tangan warga. Untuk itu, tantangan membangun Indonesia harus disadari jauh lebih komplek dibandingkan dengan kondisi Indonesia tahun 1977.

Kondisi konkret Indonesia hari ini jika dilihat dari dimensi negatif sungguh banyak dengan tidak menyebutnya tak terhingga. Hal ini terjadi karena dimensi negatif kondisi Indonesia hari ini adalah akumulasi residu yang tak teruraikan dari kondisi Indonesia hari ini. Proses akumulasi dimensi negatif ini kemudian mengalami penumpukan energi negatif dalam agenda pembangunan Indonesia.

Sementara itu, dimensi positif kondisi Indonesia masa lalu dan masa kini cenderung terpendam dalam kaedah moral kewargaan. Kemuadian energi positif ini saat ingin dikuatkan dalam sistem kerja kenegaraan sering kali kalah dengan energi-energi negatif yang justru mengarah pada temuan Mochtar Lubis. Dengan memahami dan mengambil pembelajaran dari berbagai dimensi masa lalu dan Indonesia masa kini senantiasa dapat memberi energi baru, tenaga baru hingga pelaku-pelaku baru (generasi muda) yang tidak lagi terperosok ke dalam temuan Muchtar Lubis.

Mengelola spirit dan gelombang inovasi yang begitu dahsyat di kancah nasional maupun internasional dapat menjadi pintu masuk atau mengambil peluang dalam egenda pembangunan manusia Indonesia. Sikap berfikir jauh ke depan, memutakhirkan keterampilan generasi, memperkuat solidaritas kebangsaan akan selalu menyambung manusia Indonesia dalam mencapai cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia.

Meskipun ada kajian terkait Indonesia akan bubar pada puluhan tahun ke depan, dengan terus membangun manusia Indonesia, maka kajian itu akan menjadi sekedar kajian, tidak menjadi realitas empiris dan yuridis. Begitu pula dengan cara pandang dalam memaknai manusia Indonesia mesti tidak boleh terjebak pada semangat identitas yang sempit dan terjebak primordialisme. Dalam perspektif kajian ketahanan negara, hal tersebut bagian dari upaya untuk mengantisipasi ancaman negara.

Manusia Indonesia tidak sekadar diukur dari kepemilikan Kartu Tanda Penduduk (KTP), tidak pula sekadar lahir dan menetap di wilayah kedaulatan Indonesia. Melampaui dari itu, manusia Indonesia harus diposisikan sebagai kesatuan pandangan, kesadaran dan aksi untuk membumikan nilai-nilai Pancasila di berbagai aktivitas kewargaan dan kenegaraan. Pada posisi inilah manusia Indonesia tidak boleh melupakan sejarah, tidak boleh menyepelekan kearifan lokal, serta tidak pula anti perubahan bagi tantangan kekinian dan prospek masa depan.

Dari sisi pembentukan atau mempertahankan ciri-ciri manusia Indonesia agar menjadi sistem yang utuh dan selalu berdampak kebaikan bagi seluruh isi alam raya di Indonesia. Pilar pendidikan publik dari sektor hulu mesti terus digarap, digodok dan tidak boleh ditunggangi oleh praksis-praksis politik pragmatisme atau pemburu rente. Tantangan membangun manusia Indonesia bukan saja datang dari persoalan internal keindonesiaan, melainkan juga datang dari luar, baik itu bias dari perang fisik maupun perang asimetris (non militer). Kini, Indonesia telah merasakan bagaimana dampak perang Rusia-Ukraina dan kaitannya dengan tatakelola manusia di Indonesia.

Sederhananya, upaya untuk terus mambangun Indonesia bukanlah tanggung jawab personal atau kelompok secara terpisah. Mempererat persatuan dan kesatuan manusia tanpa pandang ras, agama dan antar golongan lainnya adalah upaya perekat dalam misi membangun manusia Indonesia. Dengan terus menumbuhkan sikap kesatria, bijaksana, kredibilitas, integritas serta tangguh harus terus menjadi tumpuan harapan bagi proses membangun manusia Indonesia.
 
Disadari atau tidak, berharap seutuhnya pada lembaga-lembaga pemerintah untuk berkerja sendiri dalam membangun manusia Indonesia tentulah tidak efektif. Relasi saling bekerjasama antara lembaga pemerintah, civil society dan pihak swasta dalam agenda membangun manusia Indonesia sungguh efektif. Terlebih tantangan yang dihadapi dalam agenda ini sangatlah besar dan menantang, sebab sasaran yang berpotensi merubah ciri manusia Indonesia bukan saja dari bentuk gaya hidup, tetapi juga sampai mempengaruhi pola kerangka pikir dan emosional.
 
Dengan kuatnya kerjasama lembaga pemerintah dengan civil society, swasta yang tidak merusak nilai-nilai kemanusiaan bagi rakyat Indonesia bukan saja akan memperbaiki citra manusia Indonesia, jauh dari itu akan menghantarkan manusia Indonesia menjadi manusia yang adil, beradap, bersatu, bijaksana serta sejahtera. Membangun manusia Indonesia adalah nama lain dari perjuangan yang dikehendaki oleh ideologi Pancasila itu sendiri. Pasa saat upaya membangun manusia Indonesia terus menguat dari masa ke masa, maka kita tidak perlu khawatir terkait Pancasila akan dihantui komunisme atau Indonesia akan bubar.

Penulis sungguh yakin bahwa Indonesia bukanlah tipe negara yang lemah dan mudah dirusak. Dengan potensi kewargaan, teritorial, kebudayaan, religi serta sumber daya alam yang dimiliki seharusnya dapat menjadi pengobar semangat juang tanpa henti dalam agenda-agenda membangun manusia Indonesia. Ada banyak jalan dan pilihan untuk membangun manusia Indonesia, kesempatan itu terus terbuka lebar, ada dari sektor pendidikan, ekonomi maupun religi. Semua itu tergantung sejauhmana segenap penghuni bangsa Indonesia ini berkomitmen untuk menyambung nafas pembangunan manusia Indonesia itu sendiri. Sehingga apa yang ditemukan oleh Mochtar Lubis akan menjadi temuan masa lalu dan prestasi masa kini dalam laju Indonesia yang lebih baik dari masa ke masa. Semoga.