Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menulis sebagai Pembentukan Karakter Pembelajar

Rabu, 07 April 2021 | 08.49 WIB Last Updated 2021-04-07T01:49:09Z


Oleh Zulfata, M.Ag
Direktur Sekolah Kita Menulis
Hp. 085297440856

Tulisan ini ditujukan untuk peserta
Workshop Penulisan Karya Ilmiah BIO VAIR-IV Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry

Adanya pertanyaan terkait mana yang lebih hebat karya ilmiah atau karya tulis populer? Pertanyaan ini tentunya memiliki jawaban yang beragam, terkadang tidak terlepas juga dari jawaban yang bersumber melalui pikiran yang sempit, atau mengedepankan ego sektoral disiplin ilmu tertentu. Misalnya ada yang menjawab bahwa karya tulis ilmiah jauh lebih hebat dari pada karya tulis populer, karena karya ilmiah dihasilkan melalui proses teorisasi dan metodologi. Sehingga anggapan bahwa karya seperti skripsi, tesis dan disertasi sering dianggap sebagai karya yang derajatnya lebih tinggi dari pada karya tulis populer.

Demikian pula dengan karya tulis populer seperti opini, puisi, cerpen atau jurnalistik lainnya yang hampir dipandang sebagai sesuatu yang kualitasnya berada di bawah karya tulis ilmiah. Sejatinya tidaklah sedemikian dalam memahami kualitas atau kehebatan sebuah karya tulis. Diakui atau tidak, suatu karya tulis bukanlah untuk dipandang secara dikatomis, terlebih lagi terlalu berlebihan dalam penilaian suatu karya tulis, sehingga mengakibatkan orang lain enggan menulis secara berkelanjutan.

Namun kualitas sebuah karya tulis, apakah itu dilebel ilmiah atau populer sangat tergantung pada suatu karya tersebut memiliki daya dorong bagi kesadaran dan perubahan pola pikir khayalak (masyarakat) menuju penguatan peradaban. Sebab dalam kahazanh penulisan memiliki makna filosofinya yang tak tunggal, di antaranya adalah mengandung makna moral, daya juang, asah nalar, bahkan sampai ke persoalan ekonomis.

Pada prinsip, sebaik-baik upaya menulis adalah menulis untuk memanusiakan manusia atau untuk perikemanusiaan, bukan sekedar mengurus naik pangkat, agar populer atau mencari uang tambahan. Karena menulis dengan tulus dan berkelanjutan secara tidak langsung manfaat lainnya seperti terkenal atau mendapat rezeki, terkenal akan didapat oleh seorang penulis.

Pada posisi inilah dapat dipertanyakan apakah keberadaan skripsi, tesis atau disertasi dapat dipergunakan semuanya dalam proses memanusiakan manusia? Atau justru terjebak sebatas tanggung jawab dalam menyelesaikan studi dan karyanya dipajang di pustaka, sehingga sulit diakses oleh pembaca khalayak? Beda halnya dengan keberadaan karya tulis populer atau karya penulisan kreatif seperti opini, cerpen, puisi, novel hingga karya jurnalistik lainnya yang langsung dapat diakses oleh publik dan kemudian dapat mempengaruhi kebijakan publik menuju keadaban hidup bersama.

Dalam konteks ini penulis tidak ingin terlalu dalam menguaraikan kelebihan dan kekurangan antara karya tulis ilmiah dengan karya tulis populer, sebab dua varian karya tulis ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Oleh sebab itu dua varian ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan harus saling melengkapi, tergantung siapa memilih untuk menulis apa, apakah menulis karya ilmiah atau karya populer.

Berangkat dari penyampaian di atas dapat ditarik relasinya bahwa pola bahasa dan benang merah antara penyampaian substansi tulisan karya tulis ilmiah dengan karya tulis populer pada pola bahasa karya tulis ilmiah yang bersifat kaku (rigit) dan strukturnya terikat. Beda halnya dengan karya tulis populer yang bahasanya mengunakan bahasa populer dan struktur tulisannya bersifat dinamis.

Dari perbedaan pola penulisan dua varian penulisan di atas terdapat satu titik temu (persamaan) bahwa apapun varian penulisannya jika penulis terus menulis secara berkelanjutan, maka tanpa disadari akan membentuk karakter penulis tersebut menjadi karakter yang pembelajar. Artinya bahwa salah-satu ciri dari karakter pembelajar itu adalah karakter yang selalu belajar kapanpun dan di manapun. Sehingga seluruh kediupannya terus asyik dengan aktivitas pembelajar. Belajar dari kegagalan, belajar dari kesuksesan, hingga belajar bagi semua objek kehidupan.

Muncul pertanyaan bahwa apa alasan seorang yang terus menulis secara berkelanjutan dan kaitannya dengan karakter pembelajar? Sebelum menjawab secara konkret, pembaca tulisan ini senantiasa harus memahami bahwa proses menulis bukanlah suatu proses yang berangkat dengan tidak adanya siklus dengan tidak menyebutnya sebagai syarat-syarat saat ingin aktif menulis. Jika seseorang terus menulis, maka tanpa ia sadari akan membutuhkan banyak kata dan bahasa ketika hendak menulis. Kata dan bahasa ini didapat melalui buku, sehingga membutuhkan buku yang bermutu, dengan membaca buku yang bermutu, terbukalah wawasannya, dengan luas wawasan banyaklah inspirasinya dalam menulis.

Siklus sederhana di atas tanpa disadari pula akan membentuk suatu kebiasaan penulis yang kemudian menjadi karakter penulis untuk tidak mudah terombang-ambing dengan pendapat orang lain, tidak mudah termakan provokasi, tidak mudah terjebak hoaks. Justru para yang ingin aktif menulis akan mendapatkan kecakapan menciptakan peluang di saat orang lain menganggap kondisi terjepit, dan cara pandang yang visioner pun diraih oleh seorang penulis. Menariknya lagi kecakapan sosial dan kemandirian sikap seseorang juga terus diperkuat saat seseorang aktif menulis.

Keberkahan terkait manfaat menulis sejatinya banyak ditemukan melalui berbagai sejarah ketokohan di negeri ini. Ada tokoh penulis fiksi, dan ada pula tokoh penulis nonfiksi. Kedua ini juga tak lepas dari varian karya ilmiah (nonfiksi) dengan karya populer (fiksi/nonfiksi). Namu demikian perlu digaris bawahi adalah dominannya tokoh-tokoh besar di dunia menjadi sosok inspiratif bukanlah berangkat dari karya tulis ilmiah, melainkan dalam bentuk penulisan karya populer seperti tulisan yang berisi gagasan (opini), pidato, puisi, novel, hingga literasi pemberitaan yang kemudian menjadi dokumen penting kenegaraan.

Tokoh-tokoh inspiratif tersebut misalnya seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Tan Malaka, Pramoedya Anantatoer, Dawan Rahadjo, Deliar Noer, Cak Nur, Gus Dur, Khairil Anwar, Sapardi Damono dan masih banyak tokoh-tokoh inspiratif lainnya yang memiliki karya monumental karena menulis. Dalam konteks ini pula perlu disadari bahwa menulis bukanlah suatu pekerjaan atau profesi, melainkan aktivitas menulis adalah aktivitas yang dapat dilakukan oleh siapapun ketika seseorang hendak berpengaruh dalam peradaban, atau seseorang ingin dikenang oleh sejarah. Ibarat pepatah katakan bahwa “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan karya”. Artinya, ketika seorang manusia tidak memiliki karya, maka ia akan tenggelam dalam peradaban.

Hal inilah senada dengan apa yang dipertegas oleh Pramoedya Anantatoer yang menyatakan bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi ketika ia tidak menulis, maka ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Dari pernyataan Pramoedya Anatatoer inilah sejatinya bahwa benar ketika seseorang aktif menulis maka secara tidak langsung ia terus belajar memberikan pencerahan tanpa henti, sehingga ia benar-benar abadi dalam mengabdi.

Oleh karena itu sungguh merugi jika kalangan yang mengaku dirinya sebagai kaum terdidik tetapi tidak ingin menulis secara berkelanjutan, apalagi menjadikan menulis sebagai ajang naik pangkat belaka, atau terjebak dengan pasar kapital dalam hal menginginkan pengakuan internasional. Sebab menulis bukan soal pengakuan internasional, melainkan untuk menjadikan setiap manusia harus hidup secara normal penuh daya sebar moral hingga akhir zaman.