Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kelas Politisi 'Kita' ( Bukan Soal Kosongnya Imsakiah )

Jumat, 16 April 2021 | 10.30 WIB Last Updated 2021-04-16T03:30:18Z



Catatan : Sadra Munawar

Sebelum perhelatan pemilihan baik itu kepala daerah, anggota legislatif dan eksekutif, alat peraga kampanye (APK) di buat oleh tim kreatif calon tertentu mulai dari Spanduk ditempel di reklame hingga ke korek api ada juga gambar oknum calon tertentu.

Tidak berhenti sampai disana, sungguh kreativitas dari pasukan oknum calon tiada tandingannya, menjaga eksistensi 'tuan' nya dia mendesain Imsakiah Ramadhan foto berpenampilan agamis sang majikan agar nanti elok terlihat di jadwal imsak, sholat dan berbuka di waktu ramadhan tersebut.

Berbeda dengan tahun 1942 H ini, tahun ini banyak yang kosong, rumah-rumah di desa tidak lagi dihiasi oleh selebaran Imsakiah dari politisi, tidak disangka ternyata Imsakiah toko bangunan juga turun serta, mengisi ruang kosong rumah warga.

Begitulah kelas politisi kita, jauh sekali dari harapan founding father bangsa, saya malah berani bertaruh jika kerja-kerja sebagian dari oknum mereka memang kerja tidak mengedepankan etos, jauh panggang dari api bahkan ketika bahas hal demikian.

Apalagi kita bicarakan kerja nya jauh dari kerja kemanusiaan, karena mungkin sebagian besar politisi kita tidak pernah tau bahwa 'senyum' nya di ruang sidang dalam menentukan keputusan sangat berarti dari pada kekhawatirannya soal eksistensi diri tadi.

Harapan saya bukan setelah ini Imsakiah berdatangan, bukan!, bukan sama sekali, mereka sadar akan fungsi dan hadirnya mereka di tengah-tengah masyarakat, itu saja, tidak lebih, bukan soal Imsakiah saja ini ada problema besar menanti.

Misal mundur nya kualitas pendidikan, pincangnya arah jalan kemajuan bangsa karena di serang isu terorisme dan radikal, terdegrasi nya moral ahlak anak-anak bangsa, yang semua itu terjadi di hadapan kita.

Apakah ini bisa membaik, tentu saja bisa, jika kemauan politisi kita mau "naik kelas" jangan terus-terusan berada pada kelas yang kelas itu selalu berdebat soal dana pokir atau aspirasi, begitu juga dengan kepala daerah naik kelas dari membicarakan pembagian 'kueh' pasti akan membaik, saya masih yakin bisa, mari !, bisa jika bersama. Semoga !