Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

DARI PRASANGKA ALAMIAH KE PRASANGKA ILMIAH

Kamis, 01 April 2021 | 07.02 WIB Last Updated 2021-04-01T00:02:01Z



Oleh : Johansyah
Ketua STIT Al-Washliyah Aceh Tengah


Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, prasangka pendapat yang kurang baik sebelum seseorang mengetahui melihat kondisi yang sebenarnya. Minsalnya, ketika ada kasus kekacauan, tiba-tiba ada di sebuah sudut ada seseorang jalannya begitu terburu-buru. Dari jauh kelihatan memang sepertinya dia ketakutan. Untuk itu, kita yang melihat berprasangka bahwa dialah pelakunya. Tidak hanya itu, kita mengejar dan menangkapnya. Bahkan mungkin akan memukulnya karena menyangka dia telah melakukan pembakaran. Selidik punya selidik, ternyata dia bukan pelakunya. Dia lari bukan karena takut, tapi karena sakit perut dan buru-buru ingin ke MCK karena di rumahnya tidak ada MCK.

Sinetron di televisi cukup menarik juga ditelisik. Saya bisa katakan beginilah gambaran umum karakter orang Indonesia yang prasangka buruknya tinggi. Sinetron itu kontekstual, apa yang terjadi di masyarakat, itulah yang disinetronkan. Ini artinya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang tinggi prasangka; curiga dan menuduh tanpa fakta dan data yang jelas.

Dalam Islam, prasangka itu menjadi salah satu di antara akhlak yang tercela. Hingga dalam beberapa ayat diperingatkan agar kita menjauhi sifat ini. Allah SWT berfirman; “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hujurat: 12).

Tidak sulit untuk mengungkap alasan mengapa prasangka dilarang. Pertama, prasangka dapat menyebabkan seseorang besikap dan bertindak berlebihan. Seperti contoh yang diuraikan di atas, begitu mudah dan gegabahnya seseorang melakukan tindakan tertentu pada orang lain. Kedua, prasangka itu bisa memunculkan fitnah. Kecurigaan yang dijadikan kesimpulan, itu sangat berbahaya. Apalagi kemudian diceritakan kepada siapa saja. Padahal dasarnya adalah sangkaan, tapi seolah-olah apa yang disangkakan itu sebuah kejelasan dan kepastian. Ketiga, prangsangka juga dapat mencemarkan nama baik. Orang yang kita curigai melakukan perbuatan tercela dan disebarluaskan menjadi berita, pada akhirnya akan mencemarkan nama baiknya karena dia belum terbukti melakukannya.

Keempat, ini yang sangat berbahaya, prasangka itu pada akhirnya akan mewujud ke dalam sifat provokatif dan adu domba. Di mana-mana kalau ada orang seperti ini, tempat tersebut pasti akan menjadi kacau karena terprovokasi oleh orang-orang yang penuh prasangka tadi. Cukup ngeri kalau kita mengenang masa konflik Aceh pada beberapa belas tahun lalu. Waktu itu banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban konflik. Mereka belum terbukti bersalah, baru dicurigai tapi langsung dihabisi. Ini adalah ulah para provokator tadi. Tentu masih banyak lagi contoh di sekitar kita.

Kelima, secara pribadi, prasangka membuat kita lupa untuk melihat diri lebih dalam. Kita cenderung menghabiskan waktu untuk memata-matai orang lain dan melihat kesalahannya, dan pada saat yang sama kita lupa melihat kekurangan diri. Kondisi batin yang penuh prasangka ini semakin lama akan terus menggerogoti hati manusia sebagai penyakit yang sangat berbahaya. Ketika dia merusak hati, maka semakin rusaklah sikap dan perilakunya.

Makanya prasangka yang disarankan oleh al-Qur’an bukanlah prasangka alamiah tanpa fakta dan data yang jelas. Prasangka yang disarankan al-Qur’an adalah prasangka ilmiah. Sebuah dugaan yang membutuhkan fakta dan bukti yang kuat. Artinya boleh berprasangka atau curiga, tapi harus dibuktikan terlebih dahulu sebelum dijadikan kesimbulan dan sebuah informasi. Al-Qur’an menyebutnya dengan metode tabayyun (mengecek kebenaran informasi, menelusuri, mengumpulan fakta, dan seterusnya).

Dalam sebuah karya ilmiah kita mengenal wajib adanya prasangka. Tanpa prasangka itu karya tersebut dianggap tidak memiliki dasar dan latar belakang masalah. Atau dikatakan kajian itu masalahnya tidak jelas. Untuk itu, dalam penelitian itu prasangka itu wajib. Seperti ini pulalah arah al-Qur’an bagi kita bagaimana seharusnya berprasangka? Yakni perlu menggali informasi sebanyak-banyaknya sebelum mengarahkannya pada sebuah kesimpulan dan informasi.

Hal ini sebagaimana yang dimaksudkan dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. al-Hujurat: 6).

Artinya jika dikelola dengan baik, prasangka itu akan menjadi modal penting dalam mengkonstruksi, merekonstruksi, maupun mendekonstruksi pengetahuan. Dalam konteks sosial kemanusiaan prasangka yang dikelola secara profesional akan menjadi pembeda dan benang merah antara yang benar dan yang salah, mengungkap rahasia sebenarnya, dan menjadi salah satu metode dalam menegakkan keadilan.

Dengan demikian ada tahapan prasangka yang harus kita lalui dalam sebuah prasangka ilmiah sebagaimana yang dimaksud dalam ayat tadi. Yakni menduga maupun mencurigai berdasarkan pengamatan sekilas maupun memperoleh sebuah informasi. Langkah selanjutnya adalah melakukan penjajakan, penelusuran, dan penelaahan tentang kebenaran informasi baik dari orang, data, maupun hal-hal terkait lainnya. Dari situ kemudian dibangun beberapa proposisi. Jika dianggap masih perlu melakukan beberapa penelusuran dan pengungkapan data yang lebih akurat, sebaiknya dilakukan lagi. Setelah itu barulah dijadikan sebagai sebuah kesimpulan dan dapat disajikan menjadi sebuah informasi yang akurat dan dapat dipercaya.

Selama ini umumnya kita terjebak dalam prasangka alamiah; nekat menjadikan kecurigaan sebagai sebuah kepastian, seolah-olah semua benar adanya. Ada langkah dan proses yang terlupakan, yakni menelusuri kebenaran informasi. Di sinilah nanti perbedaan antara prasangka alamiah dan prasangka ilmiah. Prasangka alamiah itu gegabah, sedangkan prasangka ilmiah itu penuh ketelitian. Ini bukan soal dunia kampus dan dunia ilmiah, tapi soal kejernihan hati dan ketulusan niat. Artinya siapa saja berpotensi berprasangka alamiah maupun ilmiah. Wallahu a’lam bishawab!