Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

MEMUJI DAN BERSUKUR KEPADA-NYA

Selasa, 30 Maret 2021 | 13.26 WIB Last Updated 2021-03-30T06:26:54Z


Oleh : Johansyah
Ketua STIT Al-Washliyah Aceh Tengah


Artikel ini merupakan cuplikan dari sebuah ceramah subuh yang pernah disampaikan oleh Alm. Drs Tgk. H.M. Saleh Syamaun, pada MTQ ke-33 di Ketol tahun 2016 Silam yang saya coba tampilkan dalam bentuk tulisan. Saya yakin rekan-rekan dewan hakim maupun panitia pada even tersebut yang ikut shalat jama’ah pagi itu masih ingat isi ceramah ini.

Puji dan sukur sudah biasa dikumandangkan, terutama pada muqaddimah ceramah maupun khutbah. Bahkan dalam khutbah puji dan sukur menjadi salah satu rukun khutbah. Redaksinya pun bermacam coraknya. Kalimat paling sederhana dan singkat yang sering digunakan orang adalah hamdan wasyukran lillah (puji sukur kepada Allah). Atau ada satu lagi; alahamdulillahirabbil alamin, washalatu wasalamu ala asyrafil anbia’i wal mursalin wa’ala alihi washahbihi ajmain, dan lain-lain. Intinya adalah ungkapan pembuka puji dan sukur kepada Allah.

Mengapa seorang hamba memuji dan bersukur kepada Allah? Sebenarnya Allah tidak butuh untuk dipuji maupun ungkapan sukur. Tanpa itu Allah tetap agung, besar, dan kekuasaan, kekuatan, dan ke-maha-an-Nya sedikit pun tiada berkurang. Ketika manusia tidak memuji dan bersukur kepada Allah, makhluk lainnya bahkan tidak pernah luput dari aktivitas ini. Namun demikian, ketika manusia tidak memuji dan bersukur kepada Allah dia dikategorikan ke dalam kelompok yang tidak tau diri dan rugi. Memuji dan bersukur itu bukanlah kebutuhan Allah, melainkan kebutuhan manusia.

Aktivitas ini cukup beralasan; pertama, seorang hamba memuji Allah karena kehebatan-Nya. Allah Maha Kasih, Maha Sayang, Maha Besar, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Pengampun, Maha Menguasai, dan Maha-maha lainnya. Sedangkan hamba bersukur kepada Allah karena curahan nikmat dan karunia-Nya yang tidak terhingga. Semua yang dirasakan, lihat, dengar, dan nikmati selama hidup semua adalah fasilitas-Nya yang diberikan kepada hamba untuk sementara.

Bahkan tidak satu pun yang melekat dalam tubuh seorang hamba yang bukan milik-Nya. Salah satu contoh penglihatan mata. Sah-sah saja seseorang mengatakan; ‘ini mata saya’. Tapi dia tidak memiliki daya sama sekali ketika fungsi mata itu hilang. Tiba-tiba dia tidak dapat melihat. Seandainya itu miliknya dan dia yang ciptakan, tentu fungsinya dapat dikembalikan. Persis seperti kaca lampu depan mobil yang tertabrak lalu pecah, pemilik mobil tinggal membeli dan menukarnya di bengkel mobil dengan yang baru.

Boleh-boleh saja orang mengatakan; ‘ini mobil saya’. Tapi ternyata dia tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk menciptakan mobil itu sebagaimana Allah menciptakan sesuatu dengan mengatakan ‘kun fayakun’-Nya. Ketika dia memiliki mobil, di sana ada proses yang panjang dan berputar. Seseorang mengusahakan uang dan mengumpulkannya. Di tempat lain ada yang berusaha membuat mobil dari alat dan bahan baku yang diolah dari alam, besi, plastik, karet, kaca, dan lain sebagainya. Mobil ini di buat di pabrik dan orang lain datang ke sana untuk membelinya, lalu dibawa ke rumah.

Tapi orang tidak memilikinya secara totalitas, selain tidak mampu menciptanya secara langsung, juga tidak mampu menjaganya. Mobil yang baru dibeli itu bisa saja hilang dibawa kabur pencuri, kebakaran, kecelakaan dan lain-lainnya. Artinya itu bukti bahwa mobil dan apa pun itu yang dimiliki seseorang, tidak lebih dari barang titipan yang diamanahkan Allah kepadanya.

Kalimat intinya, kenapa manusia memuji Allah? Karena Dia maha segala-galanya. Sedangkan seseorang bersukur kepada-Nya karena limpahan nikmat yang tiada henti. Nah, ternyata dalam konteks hubungan sesama manusia juga, hal ini sejatinya mampu diwujudkan. Seseorang juga harus mau dan mampu memuji dan bersukur kepada manusia (dalam konteks dan tingkat kemanusiaan) tentunya.

Memuji manusia mungkin lebih tepat dikatakan mengapresiasi. Kenapa seseorang mengapresiasi yang lain? Bisa jadi karena gagasan briliannya, hasil karyanya yang memukau, suaranya yang sendu ketika membaca ayat al-Qur’an, atau ketika mendendangkan sebuah lagu, karena kesopanan dan kelembutannya dalam bertutur kata, karena kesabarannya, karena kejeniusan, dan lain sebagainya. Intinya ketika orang lain memiliki kelebihan, yang lain pantas mengapresiasinya.

Anehnya, banyak orang yang justru enggan mengapresiasi kelebihan orang lain. Malah sebaliknya dia mengapresiasi diri sendiri. Kalau orang lain membuat karya, dia katakan; ‘saya juga bisa membuat karya seperti itu, bahkan lebih hebat lagi’. Orang yang membuat karya itu sendiri sebenarnya tidak menginginkan kalau karyanya harus diapresiasi, tapi sesungguhnya, ketika seseorang mengapresiasi, hal tersebut cukup beralasan. Mengapresiasi karya orang lain itu merupakan upaya menggugurkan kesombongan dan keegoannya, sekaligus berusaha menyadarkan diri bahwa ternyata masing-masing orang memiliki kelebihan. Ketika dia enggan mengapresiasi kelebihan orang lain, itu artinya iblislah yang sedang dia tiru. Makhluk ini enggan bersujud kepada Adam lantaran merasa diri lebih mulia darinya.

Di lain sisi, banyak manusia yang keliru menempatkan apresiasi atau pujian pada hal-hal yang bersifat sementara, dan manipulatif pula. Seorang bawahan memanipulasi pujian pada atasan dengan mengatakan dia hebat atau luar biasa. Semua sikap dan tingkah laku atasan dianggap sebagai hal yang wajar dan patut dipuji, meskipun sikap itu menurut orang lain salah. Sebagai bawahan yang punya maksud tertentu, dia tampil beda dari kebanyakan. Jika yang lainnya mengkritisi, dia berusaha memuji. Atau yang lain menyalahkan, dia tampil sebagai orang yang membenarkan. Tampak sekali manipulasi apresiasinya, karena ternyata di belakang atasanya itu, dia sendiri sebenarnya tidak setuju. Tapi karena ada target tertentu yang ingin diperoleh, dia rela melakukannya.

Adapun mengungkapkan rasa sukur kepada manusia biasanya diwujudkan dalam ungkapan terima kasih. Kenapa orang berterima kasih kepada orang lain? Tentu banyak alasannya; minsalnya berterima kasih kepada orangtua yang telah membesarkan, mendidik, membelanjai, menikahkan, dan tetap membantu bahkan hingga kita punya anak. Sebenarnya orangtua tidak pernah menuntut rasa terima kasih anak, tapi sebagai anak yang tau diri, anak mustahil tidak dapat berterima kasih. Sama halnya seperti Allah yang tetap berkuasa ketika sedikit sekali dari hamba yang bersukur kepada-Nya. Orangtua juga akan tetap menjadi orangtua ketika anaknya tidak berterima kasih kepadanya. Sayangnya anak seperti ini tidak layak disebut sebagai anak ketika orang yang mengasuh, membesarkan, dan mencurahkan kasih sayang padanya dia abaikan.

Berterima kasih kepada orang lain adalah bentuk dan bukti keimanan seseorang. Dia berterima kasih berarti menyadari diri dengan sepenuh hati bahwa dia membutuhkan orang lain. Orang yang tidak berterima kasih kepada orang yang telah membantu dan menolongnya, itu tidak lain adalah orang yang tidak tau diri. Orang yang tidak tau diri sama dengan orang yang tidak mengenal siapa dirinya. Kalau dia tidak dapat mengenal siapa dirinya, berarti secara ruhaniyah dia belum layak dikatakan manusia. Sesungguhnya manusia yang mengenal dirinya adalah dia yang merasa diri membutuhkan dan dibutuhkan orang lain. Semoga kita senantiasa orang yang memuji dan bersukur kepada Allah. Dalam kontek kemanusiaan senantiasa mengapresiasi manusia karena kelebihannya, dan berterima kasih kepada manusia karena kebaikannya. Wallahu a’lam bishawab!