Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menerapkan Prinsip Kepemimpinan Rasulullah

Kamis, 24 Desember 2020 | 13.27 WIB Last Updated 2020-12-24T06:27:33Z



Oleh : Putri Nabila
Mahasiswa Universitas Syiah Kuala

Sudah menjadi takdir dan keputusan dari Allah SWT bahwa yang akan menjadi pemimpin di muka bumi ini ialah manusia yakni makhluk ciptaan-Nya. Pemimpin merupakan khalifah di bumi, Khalifah adalah orang yang mewakili umat dalam menjalankan pemerintahan, kekuasaan dan penerapan syariah. Sebab, Islam menjadikan hak pemerintahan dan kekuasaan sebagai milik umat. Untuk itulah umat mengangkat orang yang mewakili mereka dalam menjalankan pemerintahan dan menerapkan syariah yang diwajibkan oleh Allah kepada mereka. Pemimpin juga seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain untuk melakukan atau bertindak sesuai aturan dan perintahnya, dalam arti kata lain pemimpin merupakan orang yang di dengar perintah dan ajarannya dan orang yang dipercaya oleh masyarakat. Oleh karena itu, bangsa dan negara akan baik jika pemimpin di negara tersebut juga baik. Dalam hal ini, dengan adanya perintah, kebijakan, masukan yang baik akan mencapai tujuan sesuai dengan harapkan bersama.

Begitupun pada masa kepemimpinan saat ini, masyarakat memilih pemimpin yang diharapkannya bisa menjadi pengayom serta sesuai dengan apa yang diharapkannya, sesuai dengan visi misi dan kewajiban pemimpin sebelum menjabat sebagai pemerintah atau pemimpin tersebut. Ada prinsip rasulullah yakni menyesuaikan perbuatan dengan ucapan, Rasulullah tidak pernah berdusta dan ingkar akan apa yang telah ia katakan.

Ada hal yang memang harus kita tanamkan dalam kepribadian kita sendiri maupun saat menjadi seorang pemimpin yaitu sifat yang ada pada rasulullah saw karena bahwasannya setiap kita adalah pemimpin. Baik menjadi pemimpin rumah tangga, anak sekalipun pemimpin dalam profesi kita, artinya kita menjadi pemimpin untuk diri sendiri agar selalu berada dalam jalan yang benar, mengikuti kata hati dan teguh pada prinsip yang baik. “Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang di pimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya.” (HR Bukhari)

Rasulullah Saw adalah manusia yang paling bersejarah menegakkan kebenaran di muka bumi, oleh sebab itu beliau wajib menjadi panutan dan suri tauladan bagi umat. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab:21).

Semasa kepemimpinannya rasulullah selalu berada dalam jalan yang benar, dan pemimpin harus menerapkan sifat kepemimpinan seperti Rasulullah, yaitu : shiddiq, amanah,tabligh dan fathonah.

Shiddiq yang artinya pemimpin diharuskan untuk bertindak secara benar dan selalu dalam kebenaran, kejujuran serta berkeadilan.

Amanah yang memiliki arti dapat di percaya dan selalu menjaga amanah, artinya setiap pemimpin harus amanah dan mengerjakan kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin dengan sebaik-baiknya.

Tabligh artinya menyampaikan, seorang pemimpin harus menyampaikan segala sesuatu yang telah di amanahkan kepadanya. Menyampaikan segala sesuatunya tanpa ditutupi dan pemimpin juga harus bisa menjadi panutan dan contoh yang baik dengan cara menyampaikan hal-hal yang dapat memberikan manfaat kepada yang dipimpinnya .

Fathonah yang berarti cerdas, pintar, berwawasan. Seorang pemimpin harus cerdas dan memiliki wawasan yang luas guna memberikan kebijakan dan melakukan suatu tindakan yang dapat berinovasi kedepan untuk menyejahterakan dan memajukan yang dipimpinnya.

Dan dalam hal lain, rasulullah saw selalu dekat dengan yang di pimpinnya. beliau merupakan pemimpin yang merakyat, sifat lembut dan ramah tamah serta selalu mementingkan kepentingan umat dari pada kepentingan pribadinya. Dalam kepemimpinananya selalu melakukan musyawarah dalam hal sekecil apapun dengan para sahabatnya, jika dalam kepemimpinan saat ini sahabat yaitu rekan- rekan yang ada dalam struktur kepemimpinan atau kekuasaan tertentu. Rasulullah saw juga selalu konsisten dalam kekuasannya sebagai pemimpin umat, rasulullah tidak pilih kasih atau pandang bulu dan nepotisme.