Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mendadak Punya Kolam Renang Petaka Mengintai

Senin, 14 Desember 2020 | 09.01 WIB Last Updated 2020-12-14T02:01:34Z



Oleh: Inen Melani

Rumah Fahmul dan Fathir tidak jauh dari persawahan dan kolam ikan masyarakat Redelong. Mereka setiap hari menikmati pemandangan yang sangat indah. Namun di balik pemandangan yang indah itu juga tersimpan kewaspadaan dan harus membaca kode alam. Pertengahan Ramadhan curah hujannya tinggi, membuat kampung mereka dilanda banjir.

“Ama dan Ine, kami mohon izin mau melihat keadaan di kampung kita dan bergabung bermain bersama kawan-kawan.”

“Boleh Nak, usahakan sebelum salat Zuhur sudah kembali. Ingat jangan sampai langit gelap kalian masih bermain!”

Banjir menjebolkan irigasi, kolam ikan dan sawah ikut rusak, dengan seketika areal persawahan mendadak menjadi danau. Fathir dan Fahmul, membantu masyarakat bergotong royong membersihkan sumbatan aliran irigasi dari sampah plastik. Setelah banjir mulai surut, mereka bergabung dengan Aditia dan kawan-kawan bermain air dan ikut menangkap ikan dengan jaring dan kantong plastik.

“Tolong hati-hati, jika ikannya sudah ke irigasi jangan dikejar lagi!” nasehat Ayah Aditia pemilik sawah dan kolam.

Fahmul belum lancar berenang, kesempatan ini digunakannya untuk latihan berenang di petak sawah yang sudah menjadi kolam. Fathir dan kawan-kawannya membimbing dan memotivasi Fahmul hingga akhirnya lancar dan bisa ikut lomba berenang. Ikan yang ditangkap lalu dikumpulkan dan ikan-ikan itu dimasukkan dalam kantong. Kantong berisi ikan, dijadikan sebagai hadiah untuk lomba berenang.

Terlalu asik bermain sehingga mereka lupa dengan waktu. Ketika mendengar suara azan Asar berkumandang dari mesjid terdekat barulah Fathir sadar dan teringat dengan janjinya dengan Ama dan Ine.

“Teman-teman bagaimana jika besok lagi kita main, sudah azan dan langit semakin gelap. Fahmul mari kita pulang, Dik!”

“Baik, Bang. Oh, iya sudah jam berapa ini?Teman-teman kami pulang, sampai jumpa besok.” Fahmul pamitan sama teman-temannya.

“Aku bersama, Aditia, Helmi, Rendi, dan Irfan sebentar lagi pulang. Lagi tanggung,” jawab salah satu dari mereka yang sedang tangkap ikan.

“Iya kawan. Itu ikan bagianmu Fathir, tadi kamu lima kali menjuarai lomba. Jadi bawakan lima kantong untukmu,” kata Aditia.

“Terima kasih Aditia dan makasih semua,” ucap dua bersaudara itu sembari berjalan meniti pematang sawah yang masih berair.

Fahmul tidak hati-hati kantong ikan yang dipegangnya terjatuh ke irigasi jadi tinggal satu lagi di tangannya. Dia panik dan ingin masuk ke irigasi yang berarus besar. Untung Fathir berhasil menghalangi niat Fahmul, tanpa sengaja tiga buah kantong di tangannya ikut terlepas ke irigasi itu.

"Kita kan bisa berenang, jadi menangkap ikan-ikan itu mudah.”

“Betul kita bisa berenang, tapi apa bisa berenang di arus setajam itu dan apa kita sanggup melawan kecepatan berenangnya ikan? Kita ikhlaskan ikan-ikan itu pulang ke habitatnya. Ingatkan tadi apa yang diamanahkan oleh Ayah Aditia pemilik kolam dan sawah? Rezeki kita hanya ikan yang satu bungkus tuh di tanganmu,” kata Fathir menasehati Adiknya.

Belum sampai ke rumah, mereka sudah diguyur hujan lebat. Dengan berlari dalam genangan air akhirnya mereka cepat sampai ke rumah. Suara petir dan kilat menyambar Fathir memeluk Ama yang sedang mengunci pintu depan dan Fahmul memeluk Ine yang sedang memegang payung.

“Maafkan kami terlambat pulang. Ama dan Ine mau ke mana?” ucap Fathir dengan dihantui rasa bersalah.

“Alhamdulillah kalian sudah pulang, kami panik. Berencana akan mencari kalian berdua. Kami mendapat kabar kalian bermain di irigasi. Tadi pengumuman di mesjid bahwa Aditia dan kawannya terseret air dari irigasi yang jebol,” jawab Ine sembari memeluk kembali putra-putranya.

Kedua bersaudara itu menangis pilu dalam pelukan orang tuanya. Sehingga baju Ine dan Ama mereka juga ikut basah. Fahmul menceritakan semua apa yang mereka lalui bersama Aditia dan perihal ikan di tangannya.

“Sekarang mandi dan ganti baju, lalu salat Asar dan berdoa untuk keselamatan kawan-kawanmu. Ikan itu lepaskan ke ember yang berisi air. Ama mau gabung dengan tetangga kita, untuk mencari Aditia.”

Bale Redelong, 11/11/2020

Biodata Penulis

Inen Melani nama pena dari Lasma Farida, dia seorang ibu dari 1 putri dan 2 putra. Berprofesi sebagai seorang guru IPA di MTsN 2 Bener Meriah.