Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kasih Tak Bertuah

Rabu, 05 Agustus 2020 | 14.25 WIB Last Updated 2020-08-05T07:25:25Z

Oleh : Muldiana

Belasan domba berbondong-bondong dengan rapi memasuki kandang. Terlihat seorang perempuan tua yang sedang mengarahkan domba-domba tersebut untuk masuk ke kandang.

“Makanlah, aku membawakan rumput segar untuk kalian,” katanya kepada domba-domba tersebut yang seakan-akan domba tersebut mengerti dengan apa yang dikatakannya.

Siluet langit mulai memerah, mengisyaratkan bahwa senja akan segera berlalu dan langit akan berubah menjadi gelap. Hanya obor minyak itu yang menemani malam gelapnya. Begitu sunyi, gelap, dan ia hanya sendiri. Kadang hanya radio reot tua itu yang menemani kesendiriannya untuk mengusir sepi. Entah bagaimana ia menikmati kesendiriannya tersebut.

Itulah dia, Mak Endang yang menghabiskan kesehariannya seorang diri di sebuah gubuk miliknya. Semula keadaannya tidak begitu sebelum sang suami pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Bahkan, sang anak pun tak pernah kembali setelah pamit untuk merantau beberapa tahun yang lalu.

Matanya yang sudah mulai rabun, ia memandangi sebuah figura bingkai bambu hitam dan terlihat klasik. Sambil mengusap-usap bingkai figura tersebut ia berbicara dengan sangat lirih.

“Kau tahu bang, kini hari-hariku kuhabiskan dengan domba-domba ini. Dulu kita yang mengurusnya bersama. Dan anak kita juga ikut membantu. Namun, kini mereka adalah temanku dalam sepi ini,” tanpa disadari ia menjatuhkan air bening lewat pelupuk matanya, dan membasahi wajahnya yang telah keriput.

Mak Endang membiarkan cairan itu terus mengalir, hingga terjatuh di atas bingkai figura tersebut. Ia teringat akan anaknya. Ketika mereka masih bersama dan ia tak merasakan kesepian ini. Ia juga teringat ketika anaknya meminta izin kepadanya untuk merantau. Namun, tak disangka sang anak tidak pernah kembali sampai sekarang.

“Mak, izinkan aku pergi merantau. Aku ingin kita mengubah kehidupan ekonomi kita. Kasihan Emak harus terus hidup seperti ini,” kata sang anak.

“Apa kau yakin nak? Mengapa kau tidak mencoba cari pekerjaan di sini saja?” Tanya Mak Endang kepada anaknya.

“Mak, lihatlah pekerjaanku di sini. Hanya cukup untuk makan kita saja. Aku janji akan kembali setelah aku berhasil,” bujuk sang anak kepada Mak Endang.

“Kalau begitu, pergilah nak. Doaku selalu menyertaimu,” kata Mak Endang.

“Terima kasih Mak. aku pamit,” kata sang anak dan kemudian setelah mendapat izin ia pergi.

Mak Endang menjauhkan air matanya, dia memeluk anaknya yang akan berangkat untuk merantau. Lalu anaknya melangkah menjauh dari hadapannya. Anaknya pergi untuk mengadu nasib dan merubah kehidupan keluarganya.

Setahun kepergian anaknya Mak Endang masih setia menunggu. Namun, tiga tahun, bahkan sampai sekarang sang anak tak kunjung kembali. Mak Endang dengan mata rapuhnya selalu menanti kepulangan anaknya di gubuk ini. Hingga suatu hari seorang pemuda berbadan kurus datang menemuinya.

“Uwak, Ini ambilah,” Dia menyodorkan sebuah baju.

“Ini… Bukankah baju milik anakku?” Pemuda itu mengangguk.

“Kemana dia? Kenapa dia tidak pulang, kenapa hanya bajunya saja yang pulang?”

“Maafkan saya bi,” kata pemuda tersebut dengan raut sedih.

“Apa yang kau katakan?” suara Mak Endang mulai meninggi.

“Saat perjalan menuju ke temapat tujuan, kami dihadang perampok Wak. Dan, anak Uwak jatuh ke jurang. Maafkan kami Wak, kami tidak menemukan jasadnya. Dan, maafkan juga kami baru mengabari Uwak sekarang” pemuda tersebut menjelaskan.

“Ya Allah, cobaan apalagi ini. Belum cukup suamiku, sekarang kau ambil juga anaknya,” Mak Endang merintih dengan mata mulai berkaca-kaca.

“Maafkan kami Wak, saat itu kami tak bisa berbuat apa-apa. Uwak bersabarlah,” kata pemuda tersebut menenangkan.

Itu adalah hari yang paling menyedihkan bagi Mak Endang yang malang, yang kini sedang menikmati malam gelapnya. Kalau saja ia tak bisa berpikir positif saat itu, mungkin sekarang ia telah menyusul suaminya.

“Kenapa kau pergi nak? Bukankah kau telah berjanji akan pulang untuk menjengukku?” Mak Endah memeluk baju anaknya.

Dia terus menangis, merintih, menjerit, berteriak lirih, tidak peduli dengan suaranya yang semakin parau.

“Ya Allah, kenapa keadaan yang seperti ini yang kau berikan padaku. Benci kah kau padaku? Aku juga ingin merasakan bahagia seperti mereka,” Mak Endah mulai merintih.

“Ya Allah, taukah Kau betapa menderitanya aku? Ketika aku hanya mampu merintih di gubuk reot ini?” kini matanya mulai berkaca-kaca.

“Kau tau betapa sepinya hariku? Betapa heningnya malamku? Kau tau rasanya hidup hanya ditemani bayangan hitam yang kadang tak bisa kulihat dengan mata rabunku ini?” kali ini suaranya dengan terbata-bata.

Lagi-lagi ia menjatuhkan tetesan air dari sepasang matanya yang mulai keriput. Kelopak matanya mulai turun dan menutupi mata rapuhnya, ia tertidur.

Mak Endang merasakan seaka-akan kehidupan bersama anaknya yang dulu kembali. Dia melihat seseorang berbaju putih berdiri tegak di samping sebuah jurang.

“Kau kah itu anakku?” Tanya Mak Endang kepada seseorang tersebut.

Seseorang itu tak menoleh, seolah tak mendengar. Mak Endang mulai melangkah untuk mendekat. Dia mulai mengayun-ngayunkan tangannya, hendak meraih pundak tegaknya. Namun, angin berhembus dengan sangat kencang. Dedaunan berterbangan menutupi pandangannya.

Mak Endang membuka matanya. Ternyata itu hanya mimpi.

“Aku bermimpi lagi, tapi kenapa di setiap mimpiku aku tak pernah diperlihatkan seseorang yang selalu hadir di mimpiku,” Mak Endang bertanya pada diri sendiri.

Mak Endang Mulai beranjak dari tidurnya, melangkahkan kakinya. Membasuh wajahnya dan kembali dengan rutinitas sehari-harinya, dia membuka pintu kandang dombanya. Mereka bersuara dan segera berhamburan, wanita tua itu tersenyum, sehingga kulit di sekitar bibirnya tertarik.

Mak Endang melangkahkan kakinya yang tak beralas, masih dengan baju lusuh dan rambut putih beruban kusut. Namun, di kandangnya ia menemukan seorang gadis kecil yang sedang menangis.

“Gadis manis, kenapa kau menangis dan kenapa kau ada di sini? Kemana ibumu?,” Tanya Mak Endang.

Namun tangis gadis itu semakin pecah, sepertinya dia ketakutan pada sosok yang ada di hadapannya.

“Jangan takut ya. Sudah, jangan menangis lagi,” Mak Endang mencoba menenangkan.

“Hei perempuan gila, jangan kau dekati anaknya. Apa kau tidak tahu, di ketakutan melihatmu” kata lelaki tersebut.

Gadis kecil itu berlari menuju orang yang berbicara ketus pada Mak Endang. Mak Endang menoleh, betapa terkejutnya ia.

“Kau ..,” suara Mak Endang terputus sambil menunjuk lelaki tersebut.

“Kau kah itu, anakku?,” tanya Mak Endang kepada lelaki tersebut.

“Bukan. Aku bukan anakmu. Jangan sembarangan menuduh,” kata lelaki tersebut.

Mak Endang menganga mendengar jawaban lelaki tersebut. Ia tak salah lihat bahwa itu adalah anaknya. Anaknya yang dikabarkan meninggal jatuh ke jurang.

“Biarpun aku sudah tua. Tapi kuyakin aku tidak salah lihat. Kau itu anakku. Kenapa tega kau membohongiku. Membiarkan ibumu yang sudah renta ini sendirian,” kata Mak Endang terbata-bata.

“Sudah kukatakan, aku bukan anakmu. Enyahlah kau dari hadapanku,” bentak lelaki tersebut.

“Tidak, kau itu anakku. Kau anakku,” tegas Mak Endang lagi.

“Tidak, aku bukan anakmu. Sudah kukatakan aku bukan anakmu. Sudah, minggir sana kau perempuan gila,” suara lelaki tersebut meninggi

“Kau anakku,” kata Mak Endang lagi sambil menarik kaki lelaki tersebut.

Lelaki itu naik pitam. Ia mendorong Mak Endang hingga terbentur batu besar yang berada di belakangnya. Emosi sudah menguasainya sampai tak segan-segan iapun menendang Mak Endang yang telah terjatuh.

Iapun melangkah meninggalkan Mak Endang. Dia pergi menjauh dari Mak Endang yang tertunduk bersujud di tanah. Mak Endang menangis sejadi-jadinya.

“Kalau kau tidak menginginkan Mak mu yang sudah tua ini. Baiklah, pergi ke manapun kau suka. Mulai hari ini, aku bersumpah anakku telah mati,” kata Mak Endang bangkit berdiri.

Dia kembali ke gubuk tuanya dengan perasaan sakit yang sangat mendalam. Rasa sakit yang tidak sebanding dengan lukanya. Ini jalan yang telah ia pilih. Hidup sendiri dalam kesepian di balik gubuk tuanya.