Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ai Novita "KISAHKU DAN COVID'19"

Selasa, 16 Juni 2020 | 19.49 WIB Last Updated 2020-06-16T14:58:01Z

Aku adalah seorang gadis berusia 19 tahun, memiliki adik yang imut dan lucu, Dina . Usianya masih 4 tahun. Ayah ku adalah seorang pemadam kebakaran. Dan kabar duka datang saat ayah menjadi kapten di peristiwa kebakaran pabrik limbah 2 tahun yang lalu, ayah pergi meninggalkan kami. ibu, aku, dan adik ku Dina. 

Dari balkon rumahku, aku menatap langit yang hitam dengan hamparan bintang berkelap-kelip, terang berbinar jernih. Tak ada kepedihan tampak di sana. Semua ceria menyinari bumi. Dunia pastinya berputar sebagaimana mestinya, Ketenangan bumi berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan. Ucapan ibu ku, ketika ia berangkat ke rumah sakit tempatnya bekerja sebagai dokter ahli paru, sungguh membuat perasaanku bagai tersayat sembilu. "Mama akan pulang sayang," katanya pada si bungsu Dina yang baru berusia empat tahun. Dina menangis meraung-raung sembari memegang ujung baju putih ibu dengan berkata, "nangan pelgi Mama, nangan pelgi. anti ama diambil pilus colonaa!" ujarnya menyebut nama corona dengan suara kanak-kanaknya yang cadel. 

Melihat adik ku menangis saat itu sangat menyakit kan. Kami sangat menyayangi ibu. Ibu adalah satu-satunya harapan kami setelah kepergian ayah. Walau Dina telah menangis kuat tapi ibu harus pergi, tadi kepala rumah sakit menelpon nya dan mengharuskan nya datang ke rumah kerumah sakit untuk menjalankan sumpah kedokteran nya.

Sejauh ini sudah ada 3 pasien positif yang harus meninggal dunia. Satu di antara nya dokter spesialis dalam, dokter rini. Ibu sempat bercerita saat ibu Vidio call dengan ku dan Dina . Kabar kepergian dokter rini, team kerja ibu ku ini membuat ku saat takut. Ingin rasanya aku memarahi dan mengusir virus ini jauh! Sebab virus ini telah memunculkan banyak kekacauan di dunia, banyak karyawan yang harus terpaksa berhenti bekerja, pedagang yang di gusur oleh Satpol-PP, Karana penerapan PSBB di kota ku. Aku tak tega melihat para pedagang yang sedang memperjuangkan hidup nya harus berhenti berdagang sebab pasar di tutup "jika kami hanya di rumah, kami harus makan apa!? Bantuan yang di janjikan pemerintah tidak sampai ke gubuk kami" ucap seorang pedagang kecil di tv saat reporter itu menanyainya.

Rasa cemas semakin menggerogoti perasaanku, membentur-bentur dinding hatiku. Di satu sisi aku marah sebab masyarakat tidak mengindahkan aturan pemerintah untuk tetap di rumah. Jika masyarakat masih berkeliaran virus mematikan ini pasti lebih mudah menyebar, dan menambah pasien ibu ku dan ibu akan lama pulang. Tapi di sisi lain aku tak tega melihat rakyat kecil harus kelaparan.

Sejak lima hari ibu tidak pulang dan tidak dapat di hubungi. WhatsApp pun mati. Pasti ibu sedang menangani pasien nya menggunakan APD lengkap, itu sebab nya ibu tidak dapat di hubungi. Malam itu ku nyalakan tv untuk melihat kabar terkini di berita.

Mata ku tiba-tiba saja memanas, dadaku sesak, tubuh ku lemas. Kabar macam apa ini! Di rumah sakit tempat ibu bekerja, PDP bertambah dua orang dan salah satu nya adalah ibu ku! lya reporter itu menyebutkan nama ibu ku!! Aku menangis lemah tanpa suara malam itu, sebab Dina sudah tertidur. Ku raih ponsel ku dan ku telpon nenek untuk mengabarkan apa yang terjadi. Ku katakan pada nenek aku akan menjemput ibu ke rumah sakit. Aku tak ingin melihat ibu berjuang sendiri demi kesembuhanya.

"Nak kau tidak boleh egois, jika kau pergi kesana sama saja kau menjemput penyakit yang akan kau tular kan pada orang sekitar mu" aku marah pada nenek Aku berfikir bagai mana mungkin nenek mengatakan itu! Apa nenek tidak sayang pada ibu.

Aku tak henti-hentinya memikirkan ibu. Aku akan selalu berdoa kepada Tuhan agar ibu cepat sembuh dan pulang kerumah. Aku janji pada diriku sendiri jika ibu pulang aku tidak akan membuat masalah lagi.!.

Mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, di mana ibu di panggil oleh ketua jurusan fakultas ku. Sebab aku sudah berulang kali tidak masuk kuliah tanpa kabar. 

Tepat nya bolos. Maaf kan aku ibu. Ku mohon cepat lah sembuh.

Setelah kejadian malam itu aku mencoba menerima situasi ini. Aku yakin ibu akan sembuh. Ibu tidak akan meninggalkan ku dan Dina.

Aku terus berusaha menenangkan Dina kala ia menangis meraung-raung merindukan ibu. 
"Tenang lah dek, ibu sudah janji akan pulang" kata-kata itu selalu kuucap kan untuk menenangkan hati Dina dan hati ku. "Api ina Lindu mama tak Lindu cangat" ucap Dina dengan air mata yang terus mengalir.

Kemarin malam Dina tiba-tiba saja demam. Entahlah akhir-akhir ini Dina banyak menagis. Tidak biasa nya. Dulu saat ibu ada pelatihan keluar kota, Dina tak pernah secengeng ini. 

Aku tidak mengerti tentang kesehatan. aku hanya mahasiswa fakultas ekonomi yang masih semester satu. Ku telpon nenek agar nenek datang dan melihat keadaan Dina.

Nenek bilang ini tidak apa-apa hanya demam biasa "jangan khawatir, Dina hanya demam biasa kok. jaga kesehatan mu juga jika kau ikut sakit siapa yang akan menjaga Dina adik mu." masih ku ingat pesan nenek kemarin. Ku anggukan kepala ku. Mata ku tiba-tiba memanas, ternyata peran seorang ibu sangat sulit. Aku baru mengerti mengapa ibu suka marah jika aku membuat masalah. Mungkin saat itu ibu lelah.

Tiba-tiba headphone nenek berdering, menandakan ada yang menelpon nya malam itu. Aku mengira ibu yang menelpon, ku tatap nenek dengan penuh harap lalu aku ikut melihat layar headphone nenek ternyata kepala rumah sakit. Aku sedikit kecewa.

Nenek ku juga seorang dokter spesialis jantung tapi nenek sudah pensiun dari pekerjaan nya sejak dua tahun yang lalu. 

Nenek sedikit menjauh dari ku saat menerima telpon. Aku merasa aneh, jangan-jangan terjadi sesuatu apa ibu. Tidak-tidak aku harus terus berdoa agar ibu cepat pulih dan bermain lagi dengan kami.

Tiba-tiba nenek menarik tubuhku kedalam pelukannya, membuat ku terkejut.

"Ada apa nek.." tanya ku heran, sebab nenek menangis. "Nak Ibu mu .." aku terdiam dan langsung melepaskan pelukan wanita paruh baya itu. "Tidak ini tidak mungkin" aku menangis dan menatap Dina yang tertidur akibat effek obat yang nenek berikan.

Ibu ku, dia belahan jiwaku, segalanya bagiku. Berita tentang dua pasien positif covid-19 yang baru meninggal lagi, salah satu nya adalah ibu, lalu dimakamkan secara tertutup oleh pihak rumah sakit tempatnya bertugas, saat jenazah ibu di bawa ambulance, para perawat, dolder, dan staf rumah sakit memberikan apresiasi terakhir dengan memberi hormat sepanjang ambulance itu lewat. Menyaksikan ini semua membuat aku ingin berteriak sekuatnya. saat itu aku masih belum bercaya bahwa ibu pergi, untuk selamanya. 

Malam InI aku masih menatap langit malam di balkon rumah ku, kini nenek memutuskan untuk tinggal bersama kami.

Ibu! Bayangan ibu masih terus memutar-mutar di fikiran ku. Ibu itu baik. la selalu mengedepankan urusan pasien nya . "Wanita itu sakit TBC ibu harus menangani nya" 
"Pasien ibu hari ini sangat banyak, ibu lelah, bisakah kau buat kan makan malam". Air mata itu jatuh lagi kala ku ingat beberapa dialog bersama ibu. "Mama akan pulang sayang" ucapan terakhir ibu pada ku dan Dina, terus ku ulang-ulang memori itu.

Setelah pemakaman tadi pagi, aku hanya menangis di dalam kamar. Bahkan menatap wajah adikku saja aku tak mampu. Rasa sakit itu terus menerus mengetuk dinding di hati ku. Mata ini tak henti-hentinya mengeluarkan air nya. Aku tak tau 

bagaimana hidup kami kedepannya. Sesekali aku menggerutu dan memaki-maki orang-orang yang tidak mengindahkan aturan pemerintah agar tetap di rumah. Entah mengapa aku terus menyalahkan mereka 'andai saja mereka tidak keluar rumah maka pasien ibu tidak akan banyak!!' Percaya lah aku sangat rapuh sekarang. Apalagi saat mengetahui awa I ibu terinfeksi adalah saat ibu memeriksa keadaan Pasian nya tetapi Pasian itu malah berbohong pada ibu. Aku tak habis fikir bagaimana bisa orang itu berbohong! Tidakkah ia berfikir bahwa ibu dan perawat medis lain nya itu memiliki keluarga. Sungguh aku sangat membenci orang itu. la telah menenggelamkan matahari ku untuk selamanya.

ibu, aku menyayangimu, kau pahlawan hidup ku ibu, ibu pasti bahagia di sana bersama ayah. Maaf kan aku Bu, yah.. aku yakin kalian pasti sedih melihat ku seperti ini. Aku hanya kecewa pada Tuhan. Aku merasa Tuhan tidak adil sekarang! Mengapa Tuhan harus mengambil kalian berdua di saat kalian mencoba menyelamatkan orang lain? Di saat ayah dan ibu mengorbankan keluarga demi masyarakat yang tak menghargai perjuangan kalian?

Ayah, ibu aku janji akan menjaga Dina dengan baik. ibu tenang ya.. kami akan menjadi anak yang baik untuk ibu dan ayah. Aku janji.!.

Nama: Ai Novita Sari
WHATSAPP : 082269501244
Instagram : Ayi_Sinaga09
Alamat : Kp. Bukit Bersatu Kec. Bukit Kab. Bener Meriah prov. Aceh