Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Acara Delem: Semah Tungel dan Semah Pincung,Sebagai Runtun Rukun Perkawinan Local Wisdom Gayo

Jumat, 02 Juli 2021 | 17.13 WIB Last Updated 2021-07-02T10:13:40Z



Oleh Turham AG, S. Ag, M. Pd
Dosen IAIN Takengon dan Mahasiswa Program Doktor (S-3) Univertas Islam Negeri Sumatera Utara


Acara Delem

Dalam bahasa Gayo acara delem berarti acara yang dilakukan di dalam umah rinung (kamar). Acara tersebut merupakan acara khusus sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari seluruh rangkaian runtun rukun (prosesi) mungerje (perkawinan/pernikahan). Dikatakan sebagai acara delem karena pelaksanaanya harus dilakukan di dalam umah rinung (kamar) yang dalam hal ini adalah kamar pengantin.

Terdapat beberapa aktifitas pada acara delem yaitu semah tungel, semah pincung, sapu muke dan kunyit kemul. Seluruh rangkaian kegiatan pada acara delem tersebut dilakukan setelah selesai dilaksanakan ijab qabul atau setelah aman dan inen mayak (kedua mempelai) sah menjadi suami isteri menurut hukum Islam.

Acara delem yang melakukan kegiatan semah tungel, semah pincung, sapu muke dan kunyit kemul hanya dihadiri atau diikuti oleh aman dan inen mayak (pengantin pria dan wanita) serta pengasuh kedua mempelai, karena acaranya sangat sakral berkaitan dengan kehidupan baru bagi aman mayak dan inen mayak dalam berumah tangga.

Pengasuh sebagai pembimbing aman mayak dan inen mayak saat acara pernikahan adalah perempuan, dalam hal ini isteri imam kampung yang biasanya ditugaskan sebagai pengasuh, namun demikian dalam hal-hal tertentu dapat juga dilakukan oleh kaum ibu yang telah terbiasa dan mengerti tentang tugas sebagai pengasuh bagi pengantin.

Ijab Qabul Dan Menyalami Mertua

Ada beberapa rangkaian kegiatan yang harus dilalui sebelum acara delem dilaksanakan, diantaranya adalah ijab qabul yang umumnya dilaksanakan orang Gayo di masjid atau mersah (menasah/langgar) tempat tinggal inen mayak.

Acara ijab qabul ini dipandu oleh petugas dari Kantor Urusan Agama Kecamatan (KUA) dan penyuluh agama, Setelah ijab qabul dilaksanakan, apit (pendamping) sebelah kanan atau kiri langsung mengingatkan atau memberi kode/isyarat kepada aman mayak agar segera menyalami dan munyemah (sungkeman) kepada orang yang memberikan ijab qabul dan syarak opat (pemimpin kampung) yang berada disekelingnya.

Pada masyarakat Gayo lazimnya yang memberikan ijab qabul adalah ama (ayah kandung) dari inen mayak (pengantin wanita) yang paling diutamakan, bila mana ama mungkin sudah almarhum atau tidak dapat memberikan ijab qabul karena sakit dan sebagainya, maka ijab qabul diberikan oleh wali nasab yang masih dekat pertalian darah dengan inen mayak dari pihak ama.

Ketika bersalaman dan munyemah (sungkeman) tersebut aman mayak langsung memberikan sedikit uang yang telah dipersiapkan sebelumnya, hal itu melambangkan kasih sayang dan akan bersedia menyisihkan uang untuk membantu belanja serta merawat mertuanya sampai kemudian hari.

Setelah selesai mendengarkan khutbah nikah, aman mayak dan rombongan bagun dari tempat duduknya. Rombongan langsung menuju tempat resepsi untuk menikmati hidangan, sementara aman mayak langsung diserahkan pengasuhnya kepada pengasuh inen mayak dan secara bersama-sama beriring (beriringan) menuju delem umah rinung (kedalam kamar pengantin).

Saat aman mayak berada didepan pintu hendak memasuki umah rinung, aman mayak diminta untuk muroroh (menginjak) logam atau besi yang dibungkus dengan kain putih dan telah disediakan serta diletakan di tengah pintu.

Besi tersebut diinjak dengan kaki kanan, hal itu mengisyaratkan sekaligus sebagai sibol kekuatan dan keperkasaan bahwa aman mayak sebagai pemimpin rumah tangga kuat dalam pendirian, kuat menghadapi cobaan dalam rumah tangga, kuat dalam memberi nafkah lahir batin

Ketika aman mayak dan inen mayak berserta pengasuh dua belah pihak telah memasuki umah rinung, aman mayak dipersilahkan duduk di atas ampang (anyaman tikar kecil) di samping inen mayak dan menghadap kepada pengasuh untuk ditepung tawari.

Semah Pincung

Selanjutnya barulah dilakukan semah pincung, yaitu aman mayak dan inen mayak duduk berhadapan lalu aman mayak menyerahkan sejumlah uang logam atau dalam bentuk emas yang dibungkus dengan kain putih (jumlah besaranya tidak ditentukan) beserta sedikit beras.

Pemberian uang atau emas dan beras tersebut bermakna bahwa aman mayak mempunyai kesanggupan dalam memberikan nafkah dan merupakan isyarat langkah awal aman mayak memikul tanggung jawab dalam memberikan nafkah kepada inen mayak sebagai isteri beserta anak-anaknya kelak, sehingga dapat mencapai kehidupan rumah tangga sakinah mawaddah wa rahmah

Semah Tungel

Dikatakan semah tungel (sungkeman tunggal) karena hanya aman mayak sendiri yang disembah inen mayak pada acara delem ini. pelaksanaan semah tungel ini dilakukan dalam posisi aman mayak dan inen mayak masih berhadapan.

Aman mayak duduk bersimpuh hampir menyerupai duduk antara dua sujud dalam shalat, namun bedanya kedua ibu jari kaki dirapatkan. Telapak tangan kanan dan kiri tidak merapat, tetapi antara ujung jari kanan dan kiri dirapatkan dengan posisi tangan ditengah paha.

Pada posisi itu inen mayak mendekatkan diri kehadapan aman mayak dan melakukan semah tungel, yaitu kepala inen mayak ditundukan untuk menyembah sampai pada lutut aman mayak. Semah tungel ini dimaksudkan sebagi bentuk kepatuhan dan ketaatan inen mayak sebagai isteri yang setiap saat selalu siap melayani kebutuhan dan keperluan aman mayak sebagai suami.

Sapu Muke

Setelah selesai semah pincung dan semah tungel dilanjutkan dengan sapu muke (sapu muka), yaitu aman mayak dan inen mayak masih tetap dalam posisi saling hadapan untuk melakukan sapu muke dengan air yang sebelumnya telah disediakan pengasuh dan ditaburi beberapa jenis bunga yang baik.

Prosesi sapu muke ini diawali dari aman mayak memasukan tangan kanannya kedalam wadah air bertabur bunga tersebut, lalu mengangkat dan menyapukan kemuka inen mayak sebanyak tiga kali.

Sapu muke ini mengisyaratkan makna bahwa air adalah benda suci, dingin, dan sebagai sumber kehidupan. Demikian juga dengan sapu muke, diharapkan aman mayak dan inen mayak dalam mengarungi bahtera rumah tangga dapat menerapkan makna air dan tetap menjaga kesucian keluarga serta bersih dari segala hal dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Setelah selesai sapu muke, lalu pengasuh meminta aman mayak dan inen mayak duduk di atas ampang menghadap kepada pengasuh serta mencuci tangan kanan mereka masing-masing seraya menyuruh mungemul kunyit kuning bersempelah (menggenggam pulut kuning beserta inti) lalu menyuruh aman mayak menyuapkan kepada inen mayak dan sebaliknya inen mayak menyuapkan kepada aman mayak, hal ini dalam bahasa Gayo disebut bersesulangan (saling menyuapi).

Diakhir acara delem inen mayak mengangkat batil bersab (cerana berbungkus) dan diserahkan kepada aman mayak untuk dinikmati. Kemudian aman mayak membuka sab (bungkusan cerana) dan mengambil sirih yang telah diramu tersebut.

Perlu dipahami bahwa seluruh prosesi acara delem yang dilakukan aman mayak dan inen mayak dalam umah rinung tidak terlepas dari bimbingan, arahan dan dampingan serta nasehat dari pengasuh.

Setelah selesai proses acara delem, mereka keluar dari umah rinung dan membawa aman dan inen mayak menuju kepelaminan, kemudian para pengasuh mangas murum (makan sirih bersama) beserta beberapa orang dari dua belah kampung sambil bercerita dan bersiturin (berkenalan), seiring dengan itu rombongan aman mayak kembali pulang setelah menikmati hidangan.