Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kemiskinan

Jumat, 19 Februari 2021 | 15.03 WIB Last Updated 2021-02-19T08:03:01Z


Oleh : Abubakar sidik

Bismillahirrahmanirrahim Allahumma shalli 'ala Syaidina muhammad Wa Ala ali Syaidina Muhammad "Kemanusiaan dan Kemiskinan"

Selama beberapa waktu problematika kemiskinan masih menjadi beban moral pemerintahan Negeri yang kita Cintai. masyarakat gayo notabene belum memiliki kemampuan meningkatkan taraf kehidupannya dalam data kualifikasi hidup yang layak di Indonesia khususnya di Aceh. promblem ini memantik jiwa-jiwa setiap generasi gayo baik di daerah maupun di Luar daerah yang jiwanya selalu hadir"Gayoku",tanoh tembuniku,nasibmu.

Harga diri

Salah satu dari banyaknya putra daerah yang ada di Tanoh perantauan menyadari beratnya membawa beban moral identitas dipundak sebagai putra Asli Gayo,umumnya Aceh. moral akan harga diri seluruh masyarakat Gayo yang terkandung di dalam identitas Gayo. hal ini disadari atau tidak dari setiap interaksi sosial yang dilakukan identitas tersebut selalu ada di dalam diri yang organik karena tanah asal adalah awal dari watak sosial yang dibawa kemanapun, ada budaya dan adat yang dijunjung tinggi jika kita analisa dari segi Antropologi.

Jiwa sosial, gotong royong adalah salah satu sisi kemanusian yang melekat didalam setiap individu masyarakat Gayo. saling berbagi, tidak individualistik mengagetkan komunitas masyarakat kota sehingga individu-individu masyakat gayo yang ada di perantauan membawa energi positif selain masih ada energi negatif seperti lemahnya naluri untuk meningkatkan kualitas pengetahuan yang ia miliki selain pengetahuan yang formalistik yaitu, Kesarjanaan tanpa perenungan yang otentik. kerana hal itu kembali kepada visioner yang terbentuk di dalam benaknya

kemiskinan
Kemiskinan ini ada pada dua sisi, kemiskinan material pada satu sisi dan kemiskinan nonmaterial di sisi yang lain. kita akan mencoba mendefinisikan kedua hal tersebut dan menganalisanya.

kemiskinan material

Di dalam KBBI Miskin memiliki definisi tidak memiliki harta, jika kita bubuhi kata kerja ke-di awal kata dan –an di akhir maka menjadi kata kerja kemiskinan yang mana ia bawa status kekurangan atau “Keadaan”. Dari definisi tersebut kita melihat atau menganalisa bahwa sudut pandang yang ditelah adalah sisi luaran dari subjek manusia yaitu sisi material yang masuk dalam identifikasi kuantitas atau angka-angka.

Akumulasi dari data yang dianalisa oleh bagian yang consent pada wilayah tersebut seperti BPS(Badan Pusat Statistik). Tetapi angka tersebut hanya sebagai Instrumen dan memang kampus formal hanya melatih kita dalam menguasai Instrumen bukan sisi yang lebih dalam dari sisi alat tersebut. Sekali lagi bahwa angka-angka hanya sebagai Instrumen untuk mengantarkan kita kepada suatu hipotesa bukan kepada kesimpulan yang lebih subtansial kenapa suatu masyarakat bisa menderita miskin selama kurun waktu yang sangat lama,sekan seperti tidak memiliki energy untuk bangkit sekalipun pemerintahan berganti.

Kemiskinan Nonmaterial
kemiskinan nonmaterial atau disebut juga kemiskinan mental yang dibentuk dari
kekuatan Intelektual dan Spiritual seseorang sehingga memberikan kekuatan proyeksi atau cicta-cita di dalam benaknya dan diyakini di dalam hatinya sehingga menggerakkan kekuatan irradah di dalam dirinya yang intrinsic untuk melakukan sebuah tindakan konreet.

kemiskinan nonmaterial yang kita sebut kemiskinan “MENTAL” adalah problem mendasar dalam merubah status seseorang dari satu level ke level selanjutnya. Jika kemiskinan mental ini tidak diperbaiki maka setiap tahun data-data BPS yaitu melalui angka-angka yang disodorkan kepada kita tidak akan memberikan pengaruh apapun selain akumulasi kumpulan angka-angka, karena di dalam diri sesoerang tidak memiliki kekuatan yang bisa memberikan stimulasi kepada kehendaknya(irradah) untuk bertindak yang ia pilih di dalam benak pikirannya. Yang kita sebut dengan Sufrastruktur dan material kita sebut dengan Infrastruktur.

Analisa
Selain infrastruktur,yang mendasar di dalam kehidupan ilmiah yaitu seperti data-data angka dan jenis lainnya sebagai penunjang sisi material untuk merealisasikan seluruh cita-cita mulia adalah Sufrastruktur.
Subjek pendidikan yang selama ini kita terima adalah infrastruktur, setiap kemajuan dan syarat stabilitas ekonomi adalah terbangun infrastruktur. Selalu sudut pandang membangun kualitas ekonomi kesejahteraan masyarakat adalah bangunan infrastruktur. Apakah kita bertanya dari mana ide tersebut jika bukan dari sesuatu di luar infrastruktur?
Stabilitas Sufrastruktur memberikan kita Istiqomah,tawakkal, dan Arif dalam merealisasikan seluruh apa yang dicita-citakan.
Realistis, sadar atas kemampuan yang dimiliki. Bukan menghayal, imajinasi terhadap sesuatu yang syaratnya tidak kita miliki.

Jadi, kesimpulan yang kita ambil adalah dalam meraih apa yang kita inginkan yaitu cita-cita yang dikontruksi di dalam benak pikiran setiap individu manusia sampai kepada cita-cita kolektif masyarakat kita butuh bangunan Sufrastruktur yaitu mental yang memiliki kekuatan proyeksi atau cicta-cita dan keyakina(Iman) yang dihasilkan dari rasa khauf dan roja’ kepada Allah swt dan terimplementasikan di alam tindakan melalui infrastruktur. Insfratruktur untuk menjadi jalan Sufrastruktur ter-ilmiahkan. Dan Sufrastruktur dibutuhkan oleh Insfratruktur demi eksistensi stabilitas intelegible teleos(Tujuan qurbatan ilallah).
Yang mengikat teleos adalah intelegible,bukan Insfratruktur

wallahu ‘alam bissawab
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

Bandung, 19-Februari,2021