Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Yasinan dan Zikir Bersama KAMMI, IMABID dan GENBI UIN Ar-Raniry

Sabtu, 26 Desember 2020 | 22.30 WIB Last Updated 2020-12-26T15:30:33Z



Oleh : Cut Ani Darniati
Bendahara Umum KAMMI UIN Ar-Raniry dan Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan IMABID/KIP-K UIN Ar-Raniry

Pada tanggal 26 Desember 2020 tepatnya pada hari sabtu PK (Pengurus Komisariat) KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) UIN Ar-Raniry Banda Aceh berkolaborasi dengan IMABID/KIP-K UIN Ar-Raniry (Ikatan Mahasiswa Bidikmisi UIN Ar-Raniry) Banda Aceh serta GENBI (Gerakan Baru Indonesia) Komisariat UIN Ar-Raniry Banda Aceh menggelar dzikir dan yasinan bersama serta tausiahan diakhir acara untuk Refleksi Tsunami Aceh 16 Tahun lalu di PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) UIN Ar-Raniry pada pukul 10.20 wib sampai dengan selesai.

Dalam rangka memperingati tsunami yang terjadi 16 tahun yang lalu kami menggelar yasinan dan zikir bersama serta tausiahan diakhir acara, yaitu kolaborasi antara KAMMI UIN Ar-Raniry, IMABID/KIP-K UIN Ar-Raniry, dan GENBI Komisariat UIN Ar-Raniry yang bertujuan untuk berdoa bersama-sama untuk para korban tsunami yang telah meninggal dunia. Semoga semua para korban tsunami tersebut Allah tempatkan disisi terbaik dan semoga husnul khotimah. Dan untuk para korban tsunami yang selamat dan masih hidup sampai sekarang semoga Allah selalu menyertaimu..

Seperti yang diketahui bersama bahwa pada tanggal 26 Desember tahun 2004 adalah tanggal bersejarah bagi masyarakat Aceh khususnya. Dimana pada tanggal tersebut terjadi sebuah bencana yang sangat dahsyat sehingga menghilangkan banyak ribuan nyawa dan harta benda akibat gempa yang kemudian disusul dengan tsunami, dengan air yang sangat tinggi juga bergelombang, banyak ribuan manusia, binatang juga rumah-rumah warga dibawa oleh derasnya arus air yang keruh dan juga sangat-sangat kencang.

Air yang melewati pohon kelapa setinggi kurang lebih 20 meter membuat terseret semua yang ada dihadapannya dan menenggelamkan baik itu manusia maupun harta benda, tidak memilih-milih siapa yang akan diseret dan ditenggelamkan, begitulah Allah berkehendak, kita hanya bisa pasrah ketika ujian dari Allah datang dengan secara tiba-tiba.

Bagi orang yang taat ini adalah sebuah ujian/cobaan, bagi orang yang maksiat ini adalah sebuah teguran/musibah dan bagi orang yang lalai ini adalah sebuah peringatan. Maka janganlah terlalu sibuk memikirkan dunia sampai pada akhirnya kita melupakan akhirat yang memang sudah pasti kita akan rasakan bila tiba saatnya.

Gempa yang kemudian disusul oleh tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 itu merupakan teguran dan hadiah sebagai bentuk kasih sayang Allah dimana dengan bencana tersebut Allah ingin memberitahukan kepada seluruh ummat manusia yang ada dimuka bumi agar kembali kepada-Nya dan kembali mengingat-Nya, apabila dia lalai maka dia akan segera menyesali kesalahannya, apabila dia berbuat maksiat maka dia akan segera bertaubat.

Seperti Firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Asy-Syuara : 30 yang artinya “dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” dan juga ada ungkapan bijak berbunyi “setiap musibah yang turun disebabakan oleh dosa, dan tidak akan terangkat kecuali dengan taubat”.

Oleh karena itu, kita dianjurkan agar memperbanyak bertaubat dan beristighfar agar dosa dihapus oleh Allah dan tidak Allah turunkan kepada kita dalam bentuk bala dan musibah. Istighfar adalah sumber kemudahan hidup dengan izin Allah, karenanya kita sangat dianjurkan memperbanyak istighfar dimanapun dan kapanpun. Istighfar adalah amalan yang mudah karena hanya menggerakkan lidah dan menghadirkan hati.

Banyak hikmah dan ibrah yang bisa diambil dari apa yang terjadi, Allah membuat sesuatu kejadian terjadi pasti karena ada alasan dan hikmah dibaliknya, sama seperti tsunami yang Allah berikan pada tanggal 26 Desember 2004 lalu itu untuk dijadikan renungan, pelajaran dan peringatan bagi seluruh ummat manusia yang lalai dan Allah ingin kita semua kembali ke jalan yang benar (kembali pada-Nya).

Dari pemaparan penulis di atas bisa dijadikan bahan renungan dan muhasabah diri untuk kita bersama, refleksi tsunami yang terjadi 16 tahun yang lalu bisa dijadikan alasan untuk mencegah apabila melihat kemungkaran yang terjadi di muka bumi ini, tidak ada yang tahu kapan bencana akan terjadi, akan tetapi jika Allah berkendak maka jadilah (kun fayakun).

Seperti Firman Allah swt dalam Al-Qur’an “Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.At-Taghabun)

Dalam menjelaskan ayat tersebut di atas Ibn Kasir mengemukakan bahwa Allah menyatakan tiada sesuatu pun yang terjadi di alam ini melainkan dengan kehendak dan kekuasaan Allah swt, sedang siapa yang beriman kepada Allah pasti ia akan rela pada putusan Allah baik qada maupun taqdir-Nya, dengan iman itulah hati akan mendapat ketenangan, karena ia telah yakin bahwa yang telah dikehendaki tidak akan terjadi”

Untuk itu marilah sama-sama kita semua berubah dan berebenah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.