Notification

×

iklan dekstop

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Corona Nak e

Sabtu, 11 Juli 2020 | 09.51 WIB Last Updated 2020-07-11T02:51:08Z

Penulis: Fahmul Haqqi

Menatap kalender yang bergantung di dinding kamarku, hari ini tanggal 16 Maret 2020. Happy anniversary Ine dan Ama, apa yang akan aku lakukan untuk membahagiakan mereka yang sangat kucintai?Apa kado untuk Ama dan Ine? Kompromi dulu ah ... sama kakak dan abang, tapi Abang Fathir masih di Banda Aceh sedangkan Kak Melan lagi fokus ujian nasional kelas tiga SMA. Jika tidak pandai-pandai mengajaknya berdiskusi maka hangus aku dibakar oleh emosinya si kakak yang meletup-letup, gumamku dalam hati.

“Dek Mul ikut Ama ke kampus! Sekolah Adek libur. Ini bekal makan siang Adek dan Ama. Tolong makan tepat waktu dan jangan bersisa!” titah Ine di sela aktivitasnya, membuyarkan lamunanku. Kata Ine, bahwa sekolahku libur. Sementara Kak Melan sekolah dan Ine kulihat berpakaian dinas seperti biasanya. Hari ini Senin, apa sekolah dikhususkan untuk orang besar saja? Nantilah kutanyakan sama Ine atau Ama kenapa demikian dan ada apa dengan hari ini?

Setiap pagi Ine selalu sibuk. Mengurus aku, kakak, dan Ama. Ama adalah panggilanku untuk Ayah, Ine panggilanku untuk Ibu, panggilan dalam adat suku Gayo yang berlokasi di daratan tinggi Aceh. Saudara laki-lakiku bernama Fathir lagi mondok di Dayah Darul Ulum, nantinya aku juga ingin kesana. Kata Ine, bahwa aku harus banyak makan dan banyak olahraga, di sana semuanya ganas, apalagi cuaca dan aktivitasnya. Maka dari itu, aku harus mempersiapkan diri terutama daya tahan tubuh, biar jangan cepat terjangkit penyakit, harus mandiri, pemberani, dan tidak penakut. Takut hanya kepada-Nya.

“Oke Ne, happy anniversary! Yes aku ikut Ama,” jawabku dengan mencium pipi Ine dan mencium Ama yang sedang minum kopi. “Terima Kasih Sayang,” ucap Ama berbarengan pula dengan Ine, semacam kompak gitu. Kak Melan memandangku dengan senyumannya yang manis membuat sulung yang berhijab itu tampak anggun dan cantik sekali.

“Siap sarapan jangan lupa minum susu dan habiskan air minummu! Cuaca ekstrem, Ine masak sayur ikan depik. Rasanya sedikit pahit, tapi sangat baik untuk kesehatan kita. Allah Maha Mengetahui, kita tinggal di gunung jauh dari laut, Allah anugerahkan danau Laut Tawar dengan ikan depiknya yang bermusim saat cuaca hujan dan angin. Ikan ini, bisa hangatkan dan memperkuat ketahanan tubuh kita.” Keterangan Ine sembari menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga. Ada sepiring nasi putih lauknya ikan depik asam pedas disayur dengan kacang buncis, dan segelas susu hangat. “Alhamdulillah, mari kita nikmati hidangan spesial di hari istimewa ini. Jangan lupa baca doa sebelum makan!” seru Ama.

Baru saja selesai sarapan Handphone Ama berdering, suara familiar dari seberang, “Besok jam delapan pagi, Abang bisa pulang, tolong kirimkan jemputan! Selama masa lockdown corona, pimpinan Dayah mengizinkan semua santri berlajar di rumah, sosial distancing gitu.” Jawab Ama, “Iya Nak. Sabar, berdoa, jaga sikap dan jangan panik!” Dari pembicaraan Ama dengan Bang Fathir, aku menemukan jawaban kenapa diliburkan dari aktivitas sekolah.

Kak Melan merapikan meja makan dan Ine mengotak-atik ponselnya. Entah apa yang terjadi? Sehingga aku masih menangkap kegelisan pada wajah cantik wanita yang melahirkanku. Kami berpisah aku dengan Ama, Ine ke tempat ngajarnya, dan Kak Melan ke sekolahnya.

Aku sama Ama cuma sebentar di kampus, wajah Ama sama dengan Ine gelisah dan matanya cekung. “Mari kita pulang Nak!” ajaknya. Sembari ke parkiran Ama menelpon Ine, “Semua loket menyatakan tiket habis. Bersiaplah siang ini kita harus bergerak menjemput Fathir.”

“Kita ke ibu kota provinsi? Kenapa banyak ninja di kampus Ama?” tanyaku dengan keheranan dan segera masuk ke mobil. “Jemput Abangmu. Karena Corona, Nak e. Mengantisipasinya dengan bermasker, berdiam di rumah, hindari keramaian, selalu cuci tangan, makan teratur, makanannya harus bersih dan halal. Tidak boleh makan makanan yang dilarang dalam agama kita! Harus hidup dengan lingkungan yang sehat dan bersih. Kita tidak boleh takut dengan virus itu, tapi kita harus selalu siaga dan waspada serta lebih mendekatkan diri kepada Allah swt.” Penjelasan Ama panjang lebar, dengan pandangan ke depan, sesekali memandangi aku dan ke kaca spion. Terdiam, dan berusaha memahami pesan dari Ine ketika sarapan tadi pagi dan petuah Ama yang barusan kudengar. Ya Allah, lindungi kami, lindungi langit, bumi, dan isinya, doaku dalam hati.

Sampai di rumah, sudah ada Ine dan Kak Melan, mereka lagi siapkan kebutuhan untuk perjalanan jauh. Handphone Kakak berdering, “Ini ada telepon dari Nisa, dia mau bicara sama Ine.” Ine mengambil benda pipih itu dari Kak Melan. “Mami jemput Nisa! Nisa takut sama Corona, banyak cerita seram. Kawan-kawan sudah dijemput.” Ine meminta bantuan Kak Melan untuk menjemput Kak Nisa dari pondok pasantrennya yang berjarak sekitar 3 Km dari rumah kami, aku pernah melihat jarak tempuh itu pada spedometer kendaraan Ine.

Tidak tahu apa yang harus dikerjakan, duduk di kursi taman memperhatikan lingkungan sekitar. Sebuah rumah minimalis, asri, taman bunga lagi ramai. Ada bunga, mawar, angrek dan anyelir sedang mekar bermain dengan kupu-kupu berwarna warni. Burung sriti juga berkicauan dan terbang maju mundur ke sarangnya, orang tuaku membiarkan burung itu berumah di pojok dinding dapur. Kenapa selama ini aku tidak memperhatikan keindahan dan kedamaian dari tamanku? Kabar apakah yang disampaikan oleh burung itu? Apakah burung dan kupu-kupu juga dilanda ‘sosial distancing, lockdown dan work from home’ seperti kami? Istilah itu sering aku dengar dari TV. Tanpa sengaja aku melihat Ama yang semula beres-beres di dalam mobil, sekarang terduduk lemas di jok mobil dengan posisi tangannya mengenggam Hp. Aku mendekatinya, tapi aku harus mundur beberapa langkah. Aku melihat Ine menangis. Ketika berada di depan Ama dia tersenyum. Lalu Ine menelepon seseorang, aku mendengar pembicaraan mereka dan mengetahui siapa yang ditelepon oleh Ine. Orang itu adalah Pak Woh abang kandung Ine. Ine memintah bantuan beliau untuk menjemput Bang Fathir. Ine juga menghubungi nenek dan kakekku di Abdya, Alhamdulillah mereka sehat.

Oleh Ine, nasi bekal makan siangku digabung dengan makanan lainnya. Setelah makan siang, Ama mengajak kami berbicara. “Sayang, kita tidak jadi jemput Fathir, Pak Woh yang menjemputnya. Ama besok ada acara di kantor. Ama harus mengikuti tes, masa tugas Ama sudah berakhir. Untuk bertugas kembali, Ama harus lewati semua sesi tes. Doakan semoga lancar dan sukses! Kesuksesannya sebagai hadiah happy anniversary ke-19. Semoga Pak Woh dengan Fathir selamat sampai ke tujuan.” Penjelasan dan harapan yang dipaparkan oleh Ama, membuat kami semua menangis dan memeluk Ama serta berdoa kepada Allah swt.

Setelah salat Magrib dan tadarus, Ine memandangi kami satu per satu penuh cinta, dia melanjutkan pembicaraan. “Kak Melan dan Kak Nisa ujian UAS di tundah, pelaksanaannya setelah UNBK. Fahmul, ada tugas rumah dari guru sekolah dan guru ngaji, tolong gunakan waktumu dengan baik! Tadi Ine sudah beli masker dan sembako untuk persiapan kita selama tiga minggu. Tolong berhemat dan jangan buang makanan! Tidak semua orang bisa mempunyai bekal seperti kita, di luar sana banyak orang yang kesusahan mengais rezeki dalam masa lockdown dan sosial distancing ini. Kita jangan takut dengan sikon ini, tapi kita harus empati, berbagi, jaga diri serta jaga jarak!” ungkap Ine, kami semua mengangguk.

Sore Selasa, setelah melakukan perjalanan yang membutuhkan waktu 7 jam dari Banda Aceh ke Bener Meriah Pak Woh dan Fathir sampai ke rumah. Kami menyambutnya dengan gembira, setelah minum kopi Pak Woh langsung pamit kembali ke kebun di Takengon, Kak Nisa tidak ikut dengan ayahnya. Karena rencana lusa, selesai kegiatan tes Ama, kami akan ke sana. Kata Ine, kami di kebun sampai masa ‘lockdown’ berakhir.

Bang Fathir terlihat lemas dan pendiam, tidak seperti biasanya. Dia terbaring di ranjangku. Ine membawa nasi dan segelas air putih, beliau menyuapinya makan dan minum. Aku duduk disamping Ine. Aku dapat merasakan sesuatu itu, di mana Abangku yang bertubuh bongsor ini sedang kurang enak badan, semula kukira dia kelelahan karena perjalanan jauh. “Maafin aku Bang, aku kira Abang letih, baru dari kota panas,” ucapku. Dia mengangguk dan Ine memandangiku. “Tadi Ine juga demikian, setelah mengukur suhu badannya, baru Ine paham kalau dia sedang demam. Bantu Ine siapkan baju Abang dan bilang sama Kakak untuk kuncikan semua jendela dan pintu. Pulang Ama kita harus bawa Abang berobat.”

Ama pulang, kami semua menyembunyikan keadaan Bang Fathir. Ketika ditanya kami menjawab, bahwa Abang sedang tidur di kamar. Setelah makan malam, dan salat Magrib, Ine mengajak Ama menjumpai Bang Fathir ke kamarku. Ama sangat terkejut, tanpa bicara dia segera siapkan mobil. Aku dengan Kak Melan dan Kak Nisa sepupuku, kami bertiga tidak diperkenankan ikut mengantar Fathir ke rumah sakit. Aku sedih dan gelisah membayangkan bagaimana abangku berjuang melawan demam tinggi, sementara aku tidak bisa mendampinginya. Selama ini, dia yang selalu memotivasi agar semangat melawan penyakit radang amandel yang aku derita. Dia belum pernah sakit sampai dirawat di RSUD Muyang Kute. Aku bersama Kak Melan yang sering sakit dan dirawat di sana. Hanya doa yang mampu kupanjatkan untuknya dan aku selalu kontrol kesehatan Abang via Whatsapp ke Ine.

Ama pulang mengontrol keadaan kami bertiga dan ganti pakaian untuk kembali ke kantornya guna melanjutkan serangkaian ujian, hari ini Rabu adalah hari terakhir ujian. Begitu ucap Ama ketika mengendongku dari pintu rumah ke ruang keluarga. Dari Ama kami mendapat kabar hasil laboratorium, bahwa Abang Fathir ‘negatif corona’ dia mengalami demam ‘efek dehidrasi’ aku dan kedua kakakku sangat gembira dan bersyukur dengan berita ini. Walau demikian kami belum tenang sebelum dia bersama kedua orang tuaku kembali ke rumah.

“Ama dari kantor langsung ke rumah sakit. Keluarga hanya 1 orang saja yang boleh menjaga pasien. Ama gantian dengan Ine menjaga Fathir. Mohon doanya semoga besok, Fathir bisa keluar dari rumah sakit. Oh ya, di rumah sakit sekarang ketat sekali, di pintu gerbang setiap pengunjung, suhu badannya diperiksa dengan alat khusus. Jika suhu tubuh orang tersebut tinggi, maka orang itu langsung diberi perawatan khusus. Kalian di rumah saja jangan kerjakan pekerjaan yang berbahaya! Ingat listrik, pisau, api, dan air, bisa jadi sumber petaka.”

Kak Melan dan Kak Nisa aktivitasnya masak, beres rumah dan belajar. Setelah belajar materi kelas 3 MI, aku menonton TV, menghubungi Ine, berdoa untuk Abang, memantau taman, memperhatikan aktivitas petani menggarap sawahnya, rumahku berdampingan dengan sawah. Itulah aktivitasku sembari menunggu lengkapnya anggota keluarga seperti semula. Tiba-tiba ada suara roda dua menderu menuju rumahku. Aku takut, seseorang dengan berpakaian bak pembalap turun dari kendaraan mengambil sesuatu di jok belakang yang ada keranjang besar penuh barang berkemas rapi. Orang itu mendekatiku. “Dik, Anda bernama Fahmul Haqqi?” aku mengganguk dengan ketakutan. “Abang adalah kurir JNE, ini ada paket dari KPA untuk Adik.” Alhamdulillah, aku lega dan gembira, “Terima kasih Bang,” jawabku. Aku sujud syukur dan duduk di teras membaca buku Antologi karyaku bersama teman penulis KPA, buku “My Hero” lagi seru-seruanya membaca, tiba-tiba ada mobil Ama di depanku.

Alhamdulillah Bang Fathir pulang, aku menjerit memanggil Kak Melan dan Kak Nisa. Mereka berlari keluar menyambut Abang, Ine, dan Ama. “Selamat datang Bang Fathir, Ine selamat kembali dengan work from home, Ama social distancing harus! Kak Melan dan Kak Nisa lockdown aje yee you. Ine, buku My Hero sudah sampai, buku ini hadiahku untuk Ine dan Ama.” ucapku dengan bangga dan bahagia serta memamerkan buku terbaruku. Mereka berlima tertawa serentak mendengar ucapan selamat dariku. “Alhamdulillah dan selamat ya, Nak. Makasih, Sayang. Terus berkarya!” imbau Ine.

“Alhamdulillah, Fathir sudah pulang. Ini pelajaran untuk Fathir dan kita semua. Jangan malas minum air putih dan kurangi es, aktivitas kita boleh padat, tapi jangan sampai lupa atau enggan minum air putih! Selama lockdown, aktivitas banyak dalam rumah. Kendati demikian kita harus tetap banyak minum air putih!” seru Ama dengan semangat. “Ama, Ine dan Bang Fathir, mari silakan minum segelas air putih hangat buatanku!” ujarku dengan cinta kasih.
--END--
Bener Meriah, 22 Maret 2020
BIONARASI
Penulis bernama Fahmul Haqqi, bulan Agustus 2020 nanti genap berusia sembilan tahun. Baru naik kelas dari 3B ke 4B MIN 3 Kabupaten Bener Meriah, kelas 3 TPA Cahaya Azami Simpang Tiga, dan anak ketiga dari tiga bersaudara, orang tua bernama Turham, AG dan Lasma Farida. Banyak angka 3 dalam hidupnya, ini adalah Antologi ketiga Fahmul bersama teman-teman KPA. Ceritanya tentang pengalaman pribadi bersama keluarga, dari pengalaman ini dia bercita-cita ingin jadi pilot, dokter dan penulis. Dengan demikian, kelak dia ingin terbang di udara bersama goresan pena untuk mengobati orang yang sakit dan yang membutuhkan bantuannya.